Konsumsi Listrik di Bali Tumbuh Minus

Tingkat konsumsi listrik di Bali pada tahun ini menunjukkan pertumbuhan paling rendah jika dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Feri Kristianto | 20 Desember 2017 15:49 WIB
Ilustrasi

Bisnis.com, DENPASAR—Tingkat konsumsi listrik di Bali pada tahun ini menunjukkan pertumbuhan paling rendah jika dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

PLN Area Distribusi Bali mencatat pada periode Januari-November realisasi penjualan listrik tumbuh negatif 0,03%. Jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan pertumbuhan periode sama tahun lalu yang masih sebesar 11,61%.

Pada 2017, rerata konsumsi listrik hanya pada kisaran 3 Twh per bulan, sedangkan pada tahun lalu mencapai 5 Twh per bulan.

GM PLN Distribusi Bali Nyoman Suwarjoni Astawa menduga penurunan konsumsi listrik disebabkan rendahnya konsumsi di industri pariwisata hingga rendahnya produksi sejumlah sektor industri.

Khusus sektor pariwisata, pelaku pariwisata banyak yang menggunakan lampu LED karena sadar untuk penghematan dan pergantian kontributor utama wisman dari Australia menjadi China.

“Wisman posisi pertama China. Apakah ada perbedaan perilaku mereka dengan wisman asing? Bisa jadi karena wisman China misalnya bisa tinggal sekamar 4 orang dan mereka banyak tidak menikmati fasilitas hotel, kalau wisman asing kan tinggal dan menikmati layanan kamar dan hotel,” jelasnya, Rabu (21/12/2017).

Faktor lainnya dari sektor perikanan, pelaku usaha pengalengan ikan di Pengambengan, Kabupaten Jembrana, kekurangan bahan baku ikan lemuru.

Joni memaparkan pusat pengalengan ikan di Bali ini dulunya adalah konsumen utama listrik untuk memproduksi ikan kalengan. Saat ini, produksi pengusaha terganggu akibat susahnya mendapatkan bahan baku ikan lemuru di Selat Bali.

Menurutnya, pelaku usaha di Pengambengan sudah berencana mengganti bahan baku dari lemuru menjadi ikan tongkol, tetapi berdampak pada rendahnya kapasitas produksi.

Masih di sektor perikanan, petambak di Kabupaten Buleleng bermasalah dengan munculnya penyakit udang, sehingga mereka memanen lebih awal dan memilih pengeringan mengandalkan matahari lebih lama daripada menggunakan listrik.

Pada komposisi pelanggan PLN di Bali sektor rumah tangga mendominasi sebesar 81,35%, bisnis 12,06%, industri 0,08%, sosial 2,57% dan sisanya 3,93% adalah pemerintah dan layanan khusus.

Joni menegaskan tidak hanya konsumen skala industri yang memberi dampak, segmen rumah tangga pun ikut turun tingkat konsumsinya.

“Di sisi rumah tangga turun untuk skala 2.200 watt sampai 3.500 watt juga turun. Masyarakat sepertinya punya image tarif listrik naik, padahal tidak, akhirnya berupaya hemat. Selain itu, suhu tahun ini lebih rendah dibandingkan tahun lalu sehingga konsumsi seperti AC menurun,” jelasnya.

Meskipun penjualan tidak sebaik tahun lalu, Joni tetap optimistis dengan kondisi tahun depan. Strategi sudah disusun oleh PLN Bali seperti sosialisasi penggunaan listrik lebih mudah dibandingkan dengan konsumsi gas yang mulai digencarkan.

Sambungan dari pelanggan baru juga akan dimudahkan agar jumlah pelanggan meningkat hingga pemberian diskon untuk tambah daya. Lebih lanjut dijelaskan sosialiasi langsung dipasang jaringan digencarkan agar dapat menarik minat masyarakat.

 

Tag : listrik, bali
Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top