Perencanaan Pelabuhan, Indonesia Masih Tertinggal

ALFI menilai Indonesia masih tertinggal dari negara tetangga dalam hal perencanaan pelabuhan.
Abdul Rahman | 20 Desember 2017 01:53 WIB
Suasana bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. - Bisnis.com/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA - Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) menilai Indonesia masih tertinggal dari negara tetangga dalam hal perencanaan pelabuhan.

Ketua Umum ALFI Yukki Nugrahawan Hanafi yang juga Ketua Asean Federation Forwarders Associations (AFFA) mengatakan negara jiran seperti Singapura, Malaysia, Thailand, dan Vietnam sudah membuat perencanaan jangka panjang.

"Saya melihat kita tertinggal dari negara Asean lain. Singapura bahkan memindahkan pelabuhannya ke daerah yang lebih disesuaikan dan mendekati daerah industri bukan pelabuhan di kota," katanya kepada Bisnis di Jakarta pada Senin (18/12/2017).

Menurutnya, pengembangan pelabuhan harus berdasarkan perencanaan yang sangat matang dan jangka panjang termasuk di dalamnya mengikuti arah pergerakan barang.

"Kalau industri sudah bergerak keluar kota kan tidak mungkin kita mengandalkan pelabuhan tersebut. Pasti akan juga berubah dan itu semua dapat dihitung," tuturnya.

Sebagai informasi, Singapura tengah membangun pusat pelabuhan di Tuas yang ditargetkan mampu mengelola barang sebesar 65 juta TEUs per tahun.

Perencanaan pembangunan tersebut sudah dilakukan sejak 2012 silam. Pelabuhan Tuas dibangun dalam empat tahap, dan tahap pertama diperkirakan bisa beroperasi pada 2021.

Di sisi lain, pemerintah ingin menjadikan Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta sebagai pelabuhan alih muat (transshipment) seperti halnya Singapura.

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi pernah mengatakan dia ingin volume bongkar muat di Pelabuhan Tanjung Priok naik dua kali lipat menjadi 15 juta TEUs setahun. Target tersebut diharapkan tercapai 3 tahun lagi.

Elvyn G. Masassya, Direktur Utama PT Pelindo II mengaku optimistis dapat menjadikan Tanjung Priok sebagai transshipment port.

Walaupun saat ini kapasitas bongkar muat di Tanjung Priok baru 7 juta TEUs, mengejar target 15 juta TEUs, menurutnya, bukan mustahil. Alasannya, secara infrastruktur Pelabuhan Tanjung Priok sudah siap.

Namun, konsep transshipment justru dipertanyakan oleh Ketua Komite Tetap Sarana dan Prasarana Perhubungan Kadin Indonesia Asmari Herry.

Dia menilai Tanjung Priok lebih cocok sebagai gateway karena barang yang dibongkar muat di sana mayoritas untuk kebutuhan domestik. Sedangkan Pelabuhan Singapura lebih cocok disebut transshipment, karena mayoritas barang yang bongkar muat di sana tak ada hubungannya dengan Singapura.

Tag : pelabuhan
Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top