Azure Stack dari Telkomtelstra Diperkuat Pusat Data Telkom

Konsultan IDC Muhammad Kamil Yunus melihat tantangan distribusi komputasi awan hybrid di Indonesia adalah minimnya tenaga ahli.
Pandu Gumilar | 21 Desember 2017 17:09 WIB
David Burns, Group Managing Director Global Services and International Telstra Enterprise (ketiga dari kiri), Dian Rachmawan, Direktur Enterprise & Business Service PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk. (ketiga dari kanan), dan Presiden Direktur Telkomtelstra Erik Meijer (paling kanan) di sela Telstra Vantage di Melobourne, Australia - Anggi Oktarinda

Bisnis.com, JAKARTA — Dukungan infrastruktur PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk. memperkuat platform Microsoft Azure Stack yang didistribusikan Telkomtelstra di Indonesia.

Presiden Direktur PT Telkomtelstra, Erik Meijer mengatakan Azure Stack saat ini adalah satu-satunya solusi layanan komputasi awan hybrid yang tersedia di Indonesia.

Telkomtelstra, anak usaha patungan Telkom dan Telstra asal Australia, mendukung teknologi Azure Stack milik Microsoft dengan infrastruktur dalam negeri. Platform Azure Stack yang didistribusikan oleh Telkomtelstra menggunakan pusat data milik Telkom Sigma yang berlokasi di Serpong, Banten.

"Dengan data center yang berlokasi di Indonesia, kami dapat menjawab tantangan kewajiban penempatan data dalam negeri dengan pilihan menggunakan data center yang ada di Telkomtelstra atau membangunnya di lokasi pelanggan," kata Meijer.

Meijer berambisi mendistribusikan Azure Stack ke berbagai seindustri sebab menurutnya ini dapat menjadi solusi bagi perusahaan untuk bertransformasi.

Meijer optimistis dalam 6 bulan ke depan layanan Azure Stack semakin banyak diadopsi oleh perusahaan yang ingin beralih ke digital.

Dia mengatakan Telkomtelstra berencana memiliki 3 pusat data sebagai pendukung layanan Azure Stack di Indonesia untuk mengurangi risiko downtime.

"Kami sedang membangun di Sentul dan kemungkinan akhir tahun depan juga ada di Surabaya. Tergantung dari kebutuhan kami dan klien,"katanya.

Menurutnya, kelebihan layanan komputasi awan hybrid adalah kecepatan yang mendekati real-time dan tidak adanya latensi yang disebabkan oleh jarak klien dengan pusat data.

"Kami dan Microsoft Indonesia yang akan menjamin keamanan data yang tersimpan," tegasnya.

Sementara itu, Konsultan IDC Muhammad Kamil Yunus melihat tantangan distribusi komputasi awan hybrid di Indonesia adalah minimnya tenaga ahli.

Keterbatasan sumber daya manua, lanjutnya, bisa menjadi hambatan bagi perusahaan untuk mengadopsi komputasi awan dalam upaya mengakselerasi pertumbuhan bisnis dengan digitalisasi.

IDC mencatat pada C-suite Barometer Asia Pacific Research 2017, 46% koresponden di Indonesia menjawab tantangan bertransformasi digital adalah menguba sistem manajemen pada instansinya dan hanya 26% perusahaan di Indonesia yang memiliki dana untuk melakukan program transformasi digital.

Baru 20% dari responden di Indoensia yang berusaha menyiapkan bisnisnya agar kompetitif dalam persaingan ekonomi digital. Menurut laporan ini, transformasi digital adalah ancaman sekaligus peluang bagi setiap instansi.

ICM menempatkan Indonesia pada level II pengimplementasian komputasi awan dengan banyaknya ledakan data di jagat maya. Baru sekitar 26% perusahaan di Indonesia yang mengimplementasikan teknologi komputasi awan.

Kamil mengatakan pasar dapat tergiur dengan penggunaan komputasi awan apabila kesadaran akan manfaat telah tumbuh. Komputasi awan mendorong perubahan karena menggeser biaya pemeliharaan sistem teknologi informasi dari pos belanja modal perusahaan ke belanja operasional.

Tag : cloud computing
Editor : Demis Rizky Gosta

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top