RI Berpeluang Rebut Pasar Ekspor Kelapa Sawit ke Chile

Indonesia berpeluang merebut pasar ekspor kelapa sawit ke Chile dari Malaysia, yang sudah lebih dulu melakukan penetrasi ke negara itu. Peluang masuk ke Chile dimulai dengan ditandatangani perjanjian perdagangan antara kedua negara pada awal Desember 2017.
M. Nurhadi Pratomo | 21 Desember 2017 13:59 WIB
Kelapa sawit. - Bloomberg/Taylor Weidman

Bisnis.com, JAKARTA - Indonesia berpeluang merebut pasar ekspor sawit di Chile setelah kedua negara menyepakati perjanjian perdagangan pada awal bulan ini.

Berdasarkan data Trade Map, Chile mengimpor 15.439 ton komoditas minyak sawit dan turunannya serta 6.728 ton minyak sawit mentah pada 2016. Dari jumlah tersebut, Malaysia tercatat memasok 4.078 ton minyak sawit dan turunannya.

Sementara itu, Trade Map tidak mencatat adanya ekspor RI ke Chile untuk minyak sawit mentah maupun produk turunannya pada 2016. Indonesia tercatat mengekspor komoditas tersebut pada 2015 dengan volume hanya 20 ton.

Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional (PPI) Kementerian Perdagangan (Kemendag) Iman Pambagyo menjelaskan Indonesia berpeluang melakukan penetrasi ekspor komoditas kelapa sawit ke Chile setelah kedua negara meneken Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA). Pasalnya, komoditas tersebut akan dibebaskan dari pengenaan bea masuk.

Dia menampik Indonesia kalah bersaing dari Malaysia yang lebih dulu melakukan ekspor minyak sawit ke negara tersebut. Menurut Iman, saat ini volume perdagangan komoditas itu antara Chile dengan Negeri Jiran masih sangat kecil.

“Malaysia memang duluan masuk ke sana, tapi entah kenapa mereka [Chile] terlihat ingin membuat kesepakatan dengan Indonesia sebagai negara ASEAN terbesar. Jadi, peluangnya sangat besar,” ujarnya kepada Bisnis, Kamis (21/12/2017).

Seperti diketahui, Indonesia-Chile Comprehensive Economic Partnership Agreement (IC-CEPA) ditandatangani pada Kamis (14/12), di Santiago, Chile, oleh Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita dan Menteri Luar Negeri Chile Heraldo Munoz. Beberapa produk Indonesia yang mendapat pengurangan tarif signifikan dalam IC-CEPA, antara lain otomotif, alas kaki, furnitur, perhiasan, minyak sawit dan turunannya, kertas, tekstil dan produk tekstil, produk perikanan, kopi, teh, ban, biofuel, serta peralatan militer.

Di sisi lain, Indonesia akan menghapus bea masuk menjadi 0% di 9.308 pos tarif bagi produk asal Chile serta memberikan pengurangan tarif sebesar 25%-50% untuk 590 produk lainnya. Kesepakatan tersebut akan dimulai dengan menjalankan poin Trade in Goods (TIG), sedangkan pembahasan perdagangan jasa bakal dilanjutkan pada 2018.

Tag : kelapa sawit
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top