Bea Masuk Tembakau Dipandang Lebih Baik

Ketua Umum Gabungan Produsen Rokok Putih Indonesia Muhaimin Moeftie menyatakan tembakau budidaya petani lokal masih terbatas pada varietas tertentu. Sementara itu, varietas tembakau Virginia dan Oriental masih bergantung terhadap pasokan impor. Menurutnya, kenaikan bea masuk lebih tepat ketimbang membatasi akses terhadap tembakau impor.
N. Nuriman Jayabuana | 21 Desember 2017 21:48 WIB
Petani memotong daun muda tembakau di Getasan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Senin (24/7). - ANTARA/Aditya Pradana Putra

Bisnis.com, JAKARTA—Ketua Umum Gabungan Produsen Rokok Putih Indonesia Muhaimin Moeftie menyatakan tembakau budidaya petani lokal masih terbatas pada varietas tertentu. Sementara itu, varietas tembakau Virginia dan Oriental masih bergantung terhadap pasokan impor. Menurutnya, kenaikan bea masuk lebih tepat ketimbang membatasi akses terhadap tembakau impor.

“Dengan bea masuk industri masih punya akses terhadap bahan baku yang memang belum ada di sini,” ujarnya.

Menurutnya, produksi tembakau  lokal dalam 5 tahun terakhir cenderung terus menurun yaitu selalu berada di bawah 200.000 ton per tahun. Sementara, kebutuhan industri mencapai 320.000 ton per tahun.

Ketua Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia Ismanu Soemiran menyatakan pemerintah perlu mendorong agar petani mendiversifikasi varietas tembakau. “Pengusaha kretek itu sederhana, intinya bagaimana mendapat bahan baku, begitu di sini tidak ada ya pasti kami impor,” ujarnya.

Pemerintah segera meningkatkan tarif bea masuk terhadap tembakau impor. Bea masuk terhadap tembakau yang ditetapkan pemerintah saat ini sebesar 5%.

Dirjen Industri Agro Kementerian Perindustrian Panggah Susanto menyatakan pengenaan tarif dapat meningkatkan penyerapan tembakau lokal tanpa menghilangkan akses terhadap bahan baku impor.

“Supaya impor tembakau bisa semakin berkurang, maka dikenakan bea masuk. Tapi masih belum dibahas berapa tarifnya yang sesuai,” ujarnya usai rapat koordinasi di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kamis (21/12).

Menurutnya, pemerintah bakal mengharmonisasi data kebutuhan tembakau industri dengan kemampuan produksi tembakau lokal dalam waktu dekat. Dengan perencanaan yang lebih baik, ujarnya, industri dapat meningkatkan penyerapan bahan baku tembakau domestik. Hanya, ketersediaan tembakau di dalam negeri masih terbatas pada varietas tertentu.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai impor tembakau Indonesia pada Januari 2017 hingga Juli 2017 mencapai US$318,49 juta. Jumlah tersebut naik dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu US$274,30 juta.

Tag : tembakau
Editor : Ratna Ariyanti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top