2018, Garuda Indonesia Targetkan 39 Juta Penumpang

PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. menargetkan jumlah penumpang 2018 bertambah 39 juta penumpang. Perseroan memproyeksi jumlah pengunjung dapat mencapai 35 juta-36 juta orang pada akhir tahun ini.
Gloria Fransisca Katharina Lawi | 21 Desember 2017 15:07 WIB
Direktur Utama Garuda Indonesia Pahala N. Mansury memaparkan kinerja perseroan pada kuartal III/2017, di gedung Aerofood ACS, Banten, Rabu (25/10). - JIBI/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA - PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. menargetkan jumlah penumpang bertambah menjadi 39 juta orang pada 2018.

Direktur Utama Garuda Indonesia (GIAA) Pahala N. Mansury mengatakan target tersebut lebih tinggi 7,7% dari prediksi jumlah penumpang sampai akhir 2017 yang sebesar 35 juta-36 juta. Pada 2016, perseroan telah mengangkut 33 juta orang penumpang.

“Mungkin berkisar antara 37juta-39 juta penumpang,” jelas Pahala di Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta, Kamis (21/12/2017).

Pahala menyatakan sebenarnya kenaikan jumlah penumpang bisa mencapai 30% tahun depan. Namun, adanya travel warning dari beberapa negara terhadap Indonesia, terkait dengan Gunung Agung di Bali, target tersebut belum tentu tercapai. 

“Saat ini, load factor 2017 berada di kisaran 73,5% dan pada 2018 kami berharap 74%-75%,” ungkap dia.

Perseroan juga mengaku akan merilis 30 rute baru pada tahun depan. Porsi rute internasional disebut bakal lebih banyak dibandingkan rute domestik.

Pahala menuturkan salah satu prestasi perseroan pada 2017 adalah on time performance yang baik, yaitu 97% untuk angkutan jamaah haji. Dari segi produksi, perseroan pun sudah meningkatkan kinerja dengan menurunkan available seats per kilometer meningkatkan serta efisiensi biaya khususnya untuk penggunaan bahan bakar.

Dia mengakui porsi terbesar penerbangan Garuda Indonesia masih didominasi oleh penerbangan internasional. Beberapa rute dengan angka permintaan yang tinggi adalah Eropa, China, dan Jepang.

Ketiga lokasi ini mengalami pertumbuhan penumpang yang signifikan, yakni sekitar 20% pada 2017. “Kalau beberapa rute di Eropa [market] share kami di atas 50%, kalau China berkisar 40%,” jelas Pahala.

Dia memprediksi kenaikan pendapatan perusahaan akan mencapai 11%-12% pada tahun depan. Alasannya, perseroan sudah melakukan peningkatan produksi antara 13%-15%. Salah satunya dengan menambah utilitas pesawat yang saat ini hanya 9 jam 34 menit menjadi 10 jam 15 menit pada 2018.

Selain itu, Garuda Indonesia ingin menggenjot beberapa pendapatan di luar bisnis penumpang, di antaranya adalah bisnis kargo. Sampai saat ini, PT Garuda Maintenance Facility AeroAsia Tbk. (GMFI) masih mencari mitra. Pahala berharap anak usaha Garuda Indonesia itu sudah bisa menjalin kesepakatan dengan partner asing bisa selesai pada kuartal I/2018.

Tag : garuda indonesia
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top