Sentral Sawit Kalbar: Pemkab Sintang Komitmen Kawal Pengembangan Petani Swadaya

Pemkab Sintang bersama UNDP meluncurkan program perkebunan berkelanjutan pada komoditas kelapa sawit yang fokus pada petani swadaya atau petani di luar perusahaan dan plasma, di kabupaten itu.
Yanuarius Viodeogo | 21 Desember 2017 01:27 WIB
Buah kelapa sawit - Antara

Bisnis.com, PONTIANAK – Pemkab Sintang bersama UNDP meluncurkan program perkebunan berkelanjutan pada komoditas kelapa sawit yang fokus pada petani swadaya atau petani di luar perusahaan dan plasma, di kabupaten itu. 

Bupati Sintang Jarot Winarno mengatakan, harapannya petani swadaya dari Sintang bisa menjadi contoh yang baik bagi kabupaten lain yang menjadikan kelapa sawit penyumbang ekonomi daerah dalam menata kawasan perkebunan ramah lingkungan, tanpa merusak hutan dan penerapan tumpang sari di antara pepohonan sawit sekaligus menambah pendapatan petani.

“Petani swadaya atau mandiri di Sintang jumlahnya kalau kami perkirakan memiliki lahan hampir 2.049 Hektare (Ha) atau sekitar 9.000 petani. Sementara izin konsesi mendapat izin kelapa sawit yang sudah tertanam sebanyak 177.000 Ha, yang sudah terlanjur ditanam akan didorong ke arah keberlanjutan,” kata Jarot, Selasa (19/12) kemarin. 

Perkebunan kelapa sawit berkelanjutan ini, menurut Jarot, targetnya adalah semakin banyak petani swadaya nanti memperoleh sertifikat Indonesia Sustainable Palm Oil System (ISPO) dan bahkan bisa memperoleh Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO). 

“Belum ada yang ISPO tetapi petani di Koperasi Rimba Harapan (kelompok petani swadaya di Sintang) sedang menuju sertifikat itu. Sementara di perkebunan (konsesi skala besar) sudah ada 3 ISPO. Kalau sukses program ini, saya ingin Sintang menjadi contoh terbaik kabupaten se-Indonesia menerapkan program ini,” ujarnya.

Selanjutnya, setelah kesepakatan di tingkat tapak, United National Development Programme menunjuk Worl Wide Fund (WWF) Indonesia sebagai pelaksana teknis mendampingi para petani swadaya di Sintang. 

Menurutnya, ada keuntungan bagi Pemkab Sintang apabila konsisten menerapkan pola perkebunan kelapa sawit berkelanjutan. Yakni, kata dia, petani akhirnya tidak hanya mengandalkan satu komoditas saja atau monokultur melainkan ada demplot-demplot jenis tanaman lain.

“Kami di sini punya tanaman dari dulu seperti karet, lalu sudah ada mulai masyarakat mengembangkan kopi, lada, jagung dan ada yang menanam kurma sebagai diversifikasi lahan,” tuturnya. 

Direktur Policy Sustainability and Transformation WWF-Indonesia Aditya Bayunanda mengatakan, pendampingan kepada petani swadaya di Sintang salah satunya merupakan bagian proses perbaikan tata ruang. 

“Di mana saja area kawasan ekosistem esensial seperti fungsi air, fungsi lindung dan habitat. Para petani tidak membuka lahan dengan membakar, penggunaan pupuk yang sesuai dengan tanaman, jadi tidak hanya meningkatkan produktivitas saja,” kata Bayu.  

Ari Agung P. Staf Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Kebun Ditjenbun Kementerian Pertanian mengatakan, pihaknya segera memberikan keterampilan kepada kelompok tani kelapa sawit swadaya di Sintang mengolah hasil minyak mentah kelapa sawit atau crude palm oil (CPO). 

“Kementan menilai Sintang salah satu kabupaten dari 3 provinsi (Sumatra Utara, Riau dan Kalbar) yang merupakan sentral sawit nah kami nanti punya program nilai tambah untuk meningkatkan daya saing produk sawit dari Kalbar,” ujarnya. 

Tag : sawit
Editor : Andhika Anggoro Wening

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top