Pabrikan Bahan Baku Tekstil Optimistis Sambut Tahun Baru

Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia (APSyFI) memandang tahun depan lebih optimistis.
Annisa Sulistyo Rini | 27 Desember 2017 18:09 WIB
Karyawan mengambil gulungan benang di salah satu pabrik tekstil yang ada di Jawa Barat. - JIBI/Rahmatullah

Bisnis.com, JAKARTA—Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia (APSyFI) memandang tahun depan lebih optimistis.

Sekretaris Jenderal APSyFI Redma Gita Wirawasta mengatakan optimisme tersebut didorong oleh kebijakan pemerintah untuk memperketat impor borongan dan permintaan domestik yang membaik. 

Kendati dibuka kembali impor borongan melalui Permendag 64 Tahun 2017, efek terhadap pabrikan tekstil nasional tidak besar karena pengambilan bahan baku impor harus melalui pusat logistik berikat (PLB) dan tetap kena pajak yang membuat harga produk impor mahal.

"Kuartal I dan II tahun depan harusnya lebih baik dibandingkan periode yang sama pada 2017 karena dampak pengetatan impor borongan baru terasa di kuartal III dan IV 2017," ujarnya kepada Bisnis.com, Rabu (27/12/2017).

Permintaan domestik juga bakal terkerek dengan adanya momentum pemilihan kepala daerah (pilkada) yang banyak membutuhkan kaos untuk kampanye. Lebaran tahun depan juga diharapkan dapat mengangkat permintaan domestik.

Pada Lebaran tahun lalu, industri tekstil tidak menikmati pertumbuhan permintaan domestik karena Hari Raya jatuh pada kuartal II dan kalah bersaing dengan produk impor. 

"Tahun depan harusnya dapat ya momentum lebaran. Sepanjang tahun bisa lebih dari 3%, asal pemerintah konsisten memperketat impor," kata Redma. 

Adapun, pada tahun ini, pertumbuhan industri tekstil didorong oleh kenaikan permintaan domestik dan ekspor, terutama pada kuartal akhir. Permintaan global untuk produk hulu dan hilir, lanjut Redma, tumbuh di kisaran 5%.

Tag : tekstil
Editor : Ratna Ariyanti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top