Harga BBM Januari-Maret 2018 Tak Naik

Harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar subsidi, premium, dan minyak tanah tidak mengalami perubahan untuk periode Januari-Maret 2018. Pemerintah mempertimbangkan daya beli masyarakat dan menetapkan harga Rp5.150 per liter untuk solar subsidi, Rp6.450 per liter premium dan Rp2.500 per liter minyak tanah akan berlaku hingga 31 Maret 2018.
Duwi Setiya Ariyanti | 27 Desember 2017 11:13 WIB
Menteri ESDM Ignasius Jonan (kiri) didampingi Wakil Menteri Archandra Tahar (kanan) menyampaikan pandangannya dalam rapat kerja dengan Komisi VII DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (5/12). - ANTARA/Akbar Nugroho Gumay

Bisnis.com, JAKARTA - Harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar subsidi, premium, dan minyak tanah tidak mengalami perubahan untuk periode Januari-Maret 2018.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan mengatakan pemerintah mempertimbangkan daya beli masyarakat sebelum akhirnya memutuskan harga BBM tak naik untuk triwulan pertama 2018. Menurutnya, harga Rp5.150 per liter untuk solar subsidi, Rp6.450 per liter premium dan Rp2.500 per liter minyak tanah akan berlaku hingga 31 Maret 2018.

Untuk periode berikutnya, pemerintah akan melihat kembali realisasi harga minyak dan komponen dalam formula harga BBM bila memang perlu dilakukan penyesuaian. Sejak April 2016, pemerintah tak mengubah harga premium dan solar meskipun sebenarnya memiliki formula harga BBM yang sensitif terhadap perubahan harga minyak mentah.

"Harga eceran BBM untuk yang gasoline, RON 88 atau premium dan juga gasoil 48 atau biosolar, itu juga harganya sama untuk periode 1 Januari sampai 31 Maret 2018. Nanti [periode] selanjutnya kita lihat lagi," ujarnya saat jumpa pers di Jakarta, Rabu (27/12/2017).

Berdasarkan data Pertamina, pada penyaluran premium non Jawa, Madura dan Bali (Jamali) di 2015 terdapat selisih pendapatan sebesar Rp3,6 triliun. Kemudian, pada 2016 selisih pendapatan berkurang menjadi Rp967 miliar karena penyaluran premium di sepanjang 2016 memberikan surplus pendapatan Rp2,7 triliun yang bisa mengurangi selisih pendapatan akibat penyaluran premium tahun sebelumnya.

Untuk 2017, bila harga premium dan solar tak mengikuti formula, selisih pendapatan akibat penyaluran premium non Jamali diproyeksi sebesar Rp6,56 triliun dan akibat penyaluran solar, selisih pendapatan yang diperoleh perseroan sebesar Rp18,33 triliun.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Elia Massa Manik mengatakan pihaknya akan melakukan efisiensi untuk menyiasati selisih pendapatan akibat penyaluran kedua jenis BBM itu. Meskipun harga minyak mentah mengalami kenaikan dari kisaran US$38 per barel tahun lalu menjadi US$50 per barel pada tahun ini, dia menyebut perseroan masih mampu menopang beban biaya dari perolehan laba US$1,99 miliar.

"Sampai November harga crude rata-rata US$ 50, sedangkan [tahun] kemarin US$38. Tahun ini, secara finansial pertamina masih laba US$1,99 miliar. Yang kami jaga cash flow, agar tidak ada gangguan," tambahnya.

Tag : Harga BBM
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top