Indonesia Peringkat Kedua yang Keamanan Sibernya Terancam

Resiko keamanan siber menjadi prioritas utama transformasi digital sebuah perusahaan.
Pandu Gumilar | 07 Januari 2018 01:43 WIB
Ilustrasi - microsoft.com

Bisnis.com, JAKARTA — Resiko keamanan siber menjadi prioritas utama transformasi digital sebuah perusahaan.

Menurut laporan Microsoft, Asia Pacific countries among the most vulnerable to malware threats, Indonesia menempati peringkat kedua setelah Vietnam yang kemanan sibernya terancam.

Senior Product Manager, Cloud Security, Asia Pacific, Akamai Technologies, Aseem Ahmed mengatakan untuk melangkah lebih jauh dan memanfaatkan keuntungan yang dibawa oleh infrastruktur komputasi awan yang terukur, para pemimpin bisnis harus mengetahui cara menavigasi lanskap ancaman keamanan yang berubah dengan cepat.

Dia menambahkan keamanan di zaman internet saat ini mirip dengan jaringan tautan yang saling terkait dan masing-masing tautan harus kuat dan terlindungi. Tautan yang rusak dalam web memengaruhi ekosistem bisnis digital yabg dibangun secara keseluruhan.

Menurutnya, memanfaatkan kecerdasan buatan dapat dipertimbangkan oleh C-level dalam mempertahankan jaringan siber dari peretas. "Kecerdasan [buatan] yang dibangun akan dapat membantu organisasi mengenali, mengurangi, dan bahkan mengantisipasi malware dan serangan jauh di depan waktu dan mencegah mereka melakukan tindakan dan penyempurnaan yang diperlukan," kata Aseem pada Sabtu (6/1) dalam siaran pers.

Arsitektur platform komputasi awan, lanjutnya, perlu dirancang dengan cara yang terdistribusi agar menjadi lebih kuat dan terhindar dari kesalahan. Keandalan sistem dapat dipastikan dengan lapisan infrastruktur dan sistem yang berlebihan dengan mekanisme failover yang dinamis.

Selain itu perusahaan dapat mempertimbangkan untuk menggunakan perlindungan Denial of Service (DoS) dan Distributed Denial of Service (DDoS) yang lebih banyak untuk aplikasi yang pada Internet, infrastruktur jaringan, pusat data, dan bahkan bandwidth jaringan ke pusat data.

Cara Ini menurut Aseem tidak hanya melindungi dan mengurangi jangkauan serangan pada DoS dan DDoS, tapi juga serangan yang menyasar bandwidth tinggi hingga bertahan sampai ratusan Gbps serta dilengkapi dengan SLA time-to-mitigate.

Tag : cyber
Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top