Mata Uang Digital Tingkatkan Konsumsi Listrik Global

Konsumsi listrik global yang dibutuhkan untuk menciptakan mata uang digital tahun ini dapat menandingi keseluruhan konsumsi listrik Argentina dan menjadi pendorong pertumbuhan bagi produsen energi terbarukan dari AS hingga China.
Aprianto Cahyo Nugroho | 11 Januari 2018 06:46 WIB
Mata uang virtual Bitcoin - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Konsumsi listrik global yang dibutuhkan untuk menciptakan mata uang digital tahun ini dapat menandingi keseluruhan konsumsi listrik Argentina, dan menjadi pendorong pertumbuhan bagi produsen energi terbarukan dari AS hingga China.

Penambang bitcoin dan cryptocurrency lainnya membutuhkan sekitar 140 terawatt-jam listrik pada tahun 2018, sekitar 0,6% dari total konsumsi global, tulis analis Morgan Stanley yang dipimpin oleh Nicholas Ashworth menulis dalam sebuah laporan pada hari Rabu (10/1/2018). Konsumsi tersebut lebih tinggi dari perkiraan konsumsi untuk kendaraan listrik pada 2025.

"Jika cryptocurrency terus terapresiasi, kami memperkirakan konsumsi daya untuk global akan meningkat," Ashworth menulis dalam catatan tersebut, seperti dikutip Bloomberg.

Walaupun angka tersebut terlalu kecil untuk menjadi pendorong utama dalam saham utilitas global, ini merupakan sebuah cerita pertumbuhan penting bagi perusahaan yang berinvestasi pada tenaga angin dan tenaga surya yang dikombinasikan dengan penyimpanan energy, termasuk NextEra Energy Inc., Iberdrola SA dan Enel SpA.

Penerima manfaat potensial lainnya termasuk perusahaan minyak besar yang berinvestasi di pengembang energi dan energi terbarukan yang didukung oleh pencarian modal dengan penawaran koin perdana (initial coin offering).

Salah satu perusahaan yang merespon positif adalah Hydro-Quebec, perusahaan utilitas listrik terbesar di Kanada.  Juru bicara Hydro-Quebec, Marc-Antoine Pouliot mengatakan perusahaan sedang dalam pembicaraan dengan lebih dari 30 ‘penambang’ cryptocurrency yang mayoritas beroperasi di China dan mengharapkan untuk mengumumkan kesepakatan pada tahun 2018.

Dalam waktu empat tahun, Hydro-Quebec memperkirakan para penambang menyerap sekitar lima terawatt-jam listrik setiap tahunnya, setara dengan sekitar 300.000 rumah di Quebec, dari surplus yang diciptakan oleh bendungan pembangkit listrik tenaga air di wilayah ini.

"Jika kita harus berinvestasi di jaringan transmisi kita, investasi ini akan dibayar oleh para penambang," kata Pouliot.

Permintaan listrik untuk pertambangan bitcoin naik menjadi sekitar 20,5 terawatt-jam setahun pada akhir 2017, menurut sebuah laporan oleh Bloomberg New Energy Finance yang dirilis Rabu (10/1).

Permintaan tersebut setara dengan lebih dari setengah konsumsi tahunan oleh penambang tradisional terbesar di dunia, BHP Billiton Ltd yang mencapai 38 terawatt-jam  atau 1/10 konsumsi listrik di Afrika Selatan.

Ketidakpastian Tinggi

Di China, para penambang menggunakan listrik hingga 15,4 terawatt-jam, yang hanya sebagian kecil di industri tenaga negara ini. Meskipun menjadi negara dengan komunitas penambang bitcoin terbesar di dunia, penambah hanya menggunakan 0,2% dari produksi listrik tahunan negara tersebut, menurut laporan Morgan Stanley.

Penambang mungkin akan berkonsentrasi di daerah dengan biaya rendah, termasuk China dan AS bagian Barat Tengah serta Barat Laut. Penambang mendapatkan sejumlah bitcoin untuk melakukan perhitungan kompleks yang diperlukan untuk mengkonfirmasi transaksi cryptocurrency tersebut.

Namun, laporan Morgan Stanley juga menekankan kehati-hatian mengenai banyaknya ketidakpastian , yang berarti konsumsi energi bisa menuju ke arah berbeda. "Ini jelas bukan ilmu pasti," tulis Asworth.

Tag : bitcoin
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top