Ini Alasan Hyundai Terlibat Investasi Rp33 Triliun di Grab

Hyundai beserta Toyota, Didi Chuxing, dan SoftBank menjadi investor Grab setelah menggelontorkan US$2,5 miliar atau sekitar Rp33,2 triliun pada 11 Januari 2018.
JIBI | 31 Januari 2018 08:48 WIB
Grab Bike - Reuters/Iqro Rinaldi

Bisnis.com, JAKARTA - Hyundai beserta Toyota, Didi Chuxing, dan SoftBank menjadi investor Grab setelah menggelontorkan US$2,5 miliar atau sekitar Rp33,2 triliun pada 11 Januari 2018.

Hyundai masuk ke Grab, menurut analis, karena alasan mobilitas. Kepada Forbes, Managing Director IHS Markit untuk Asia-Pasifik James Chao mengatakan bukan hanya Uber, Grab, dan penyedia mobilitas berbasis aplikasi yang berebut pasar karena sejumlah pabrikan mobil dunia juga terlibat perang yang sama.

"Semua pembuat mobil berebut menempatkan diri di pasar mobilitas yang baru," ucapnya.

Direktur Inovasi yang juga Kepala Divisi Strategi dan Inovasi Hyundai Young Cho Chi menyatakan kemitraan strategis dengan perusahaan asal Malaysia itu akan membantu Hyundai mengeksplorasi peluang baru di industri mobilitas, seperti dilansir dari Tempo.co, Rabu (31/1/2018).

Sebelum bekerja sama dengan Grab, Hyundai tampak kepayahan memamerkan Ioniq, mobil ramah lingkungan mereka. Pabrikan asal Korea Selatan (Korsel) itu memberikan layanan gratis mengendarai Ioniq selama dua jam lewat WaiveCar dan Wina, aplikasi berbagi mobil yang masing-masing berbasis di Los Angeles, AS dan Austria.

Bahkan, Hyundai mengoperasikan aplikasi sendiri di Amsterdam, Belanda untuk memberi kesempatan kepada konsumen untuk menyewa 100 unit Ioniq. 

Adapun Toyota menyuntik Grab lewat Toyota Tsusho Corp. Perusahaan asal Jepang itu sebenarnya sudah beberapa kali berinvestasi di Grab.

Sejak dua tahun lalu, banyak pabrikan mobil dunia yang berinvestasi di sektor ini. Pada awal 2016, General Motors berinvestasi sebesar US$500 juta di Lyft Inc, perusahaan transportasi berbasis pemesanan (on-demand), untuk mengembangkan layanan pemesanan transportasi nirsopir menggunakan platform.

Volkswagen juga telah meneken kontrak senilai US$300 juta dengan Gett, aplikasi berbagi kendaraan yang berbasis di Tel Aviv, Israel. 

Pada tahun yang sama, Ford mengakuisisi Chariot. Platform yang menyediakan angkutan komuter alternatif yang beroperasi di San Francisco, AS ini mengoperasikan mobil van yang mengangkut penumpang komuter hanya pada jam dan hari kerja.

 

Sumber : Tempo.co

Tag : taksi online
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top