Orang Yordania Sering Nongkrong, Kopi Indonesia Berpeluang Masuk

KBRI di Amman, Yordania menggandeng pengusaha Indonesia dan Yordania untuk mempromosikan produk kopi dan kuliner Indonesia di Yordania melalui pendirian kafe dan restoran Indonesia.
Amanda Kusumawardhani | 09 Februari 2018 09:44 WIB
Ilustrasi penikmat kopi. - Reuters/Darren Whiteside

Bisnis.com, JAKARTA - KBRI di Amman, Yordania menggandeng pengusaha Indonesia dan Yordania untuk mempromosikan produk kopi dan kuliner Indonesia di Yordania melalui pendirian kafe dan restoran Indonesia.

“Saya melihat peluang untuk mempromosikan produk kopi dan kuliner Indonesia di Yordania sangat besar, mengingat kunjungan wisatawan Indonesia ke Yordania dan Palestina dalam satu tahun mencapai 70.000 orang," kata Duta Besar Andy Rachmianto melalui keterangan resmi pada Jumat (9/2/2018).

Menurutnya, mereka dapat menjadi target konsumen utama restoran Indonesia selain masyarakat Yordania yang juga gemar mencoba makanan dengan cita rasa Asia.

Selain itu, budaya masyarakat Yordania yang senang nongkrong dan ngopi di kafe-kafe menjadi peluang bagi masuknya produk kopi Indonesia yang sangat beragam.

Pada kesempatan ini, Andy juga menerima kunjungan delegasi Citarasaprima Indonesia Berjaya/CRP Group yang dipimpin oleh CEO Nirmal Rajaram dan CEO Tasali Jordanian Trading Est., Ihab Al Shorafa.

Kunjungan CRP Group ke Yordania untuk mengembangkan bisnisnya ke luar negeri memang sejalan dengan misi KBRI untuk mempromosikan kuliner dan kopi Indonesia di negara akreditasi.

Dia juga menyampaikan bahwa berbagai produk kopi instan Indonesia telah menembus pasar Yordania dan diterima baik oleh masyarakat. Sudah saatnya, biji kopi Indonesia juga bersaing dengan produk sejenis yang selama ini banyak diimpor dari India, Brasil, Ethiopia, Papua Nugini, Guatemala, dan Kolumbia.

Berdasarkan data dari www.trademap.org, untuk 2016, Yordania mengimpor kopi terbanyak dari India yakni US$ 22,11 juta, diikuti Brasil US$16,17 juta, Ethiopia US$11,05 juta, Papua Nugini US$3,12 juta, dan Guatemala US$ 2,9 juta. Impor biji kopi dari Indonesia sepanjang 2012-2016 rata-rata per tahun hanya US$292.000.

Beberapa kafe terkenal di Yordania, seperti Starbuck, the Coffee Bean & Tea Leaf, serta Dimitri's telah menjual biji kopi Indonesia dari Sumatra dan Toraja.

Andy menegaskan bahwa masyarakat Arab pada umumnya, termasuk di Yordania, lebih menyukai kopi jenis Robusta dibandingkan Arabica. Untuk itu, CRP Group harus benar-benar memahami pasar untuk memenangkan strategi pemasaran produk kopi Indonesia di Yordania.

Pemilihan lokasi yang strategis  untuk mendirikan kafe dan restoran Indonesia juga sangat penting untuk diperhatikan. Dia berharap agar kerja sama CRP Group dengan Tasali Jordanian Trading Est. yang merupakan importir produk mi instan Indonesia untuk mendirikan kafe dan restoran Indonesia dapat terealisasi dalam waktu dekat.

CRP Group dapat dibilang pendatang baru pada industri kuliner di Indonesia. Namun, dengan strategi pemasaran yang jitu, nama restorannya sangat cepat dikenal oleh masyarakat luas, seperti restoran Nasi Goreng Rempah Mafia yang didirikan pada 2013, kemudian diikuti oleh nama-nama restoran lainnya, yaitu Warunk Upnormal (Juni 2014), Bakso Boedjangan (Januari 2015), dan Sambal Karmila (Oktober 2015).

Popularitas restoran besutan CRP Group dibuktikan lewat penghargaan The Most Favorite Merchant 2016 yang diberikan Go-Jek kepada Warunk Upnormal. Pada 2016 pula, Warunk Upnormal memperoleh penghargaan Creative & Innovative Culinary dari Dinas Budaya dan Pariwisata Kota Bandung.

Pada 2017, Kementerian Pariwisata RI menggandeng CRP Group  sebagai mitra di program Co-Branding Wonderful Indonesia. Melalui sinergi keduanya, diharapkan CRP Group dapat mengampanyekan Wonderful Indonesia antara lain lewat jejaring restoran yang dimiliki CRP Group.

Tag : kopi
Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top