Masih Banyak Pelaksana Proyek Abaikan Audit Daya Tahan Konstruksi

Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional Indonesia mengingatkan agar perusahaan pelaksana proyek infrastruktur dan gedung-gedung pencakar langit melakukan audit daya tahan konstruksi yang komprehensif.
Irene Agustine | 13 Februari 2018 16:46 WIB
Kereta rel listrik melintas di dekat lokasi launching girder (alat angkat proyek) yang jatuh pada proyek pembangunan jalur ganda kereta ManggaraiJatinegara, di Jatinegara, Jakarta Timur, Minggu (4/2). - JIBI/Dwi Prasetya

Bisnis.com, JAKARTA — Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional Indonesia mengingatkan agar perusahaan pelaksana proyek infrastruktur dan gedung-gedung pencakar langit melakukan audit daya tahan konstruksi yang komprehensif.

Sekjen Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional Indonesia (Gapensi) Andi Rukman Karumpa mengatakan bahwa berdasarkan kajian asosiasinya, sebagian besar pelaksana proyek mengabaikan audit daya tahan konstruksi infrastruktur dan bangunan-bangunan besar.

Dia menuturkan bahwa sejauh ini audit yang dilakukan hanya berupa audit biaya dan benefit recovery.

Oleh karena itu, Andi meminta supaya pelaksanaan audit tersebut diperluas dengan mengarah pada antisipasi bencana.

“Jadi, rata-rata [pelaksana proyek] hanya menilai dan menguji tingkat biaya dan waktu penyelesaian proyek, tanpa lebih komprehensif pada uji daya tahan, keamanan, keselamatan, serta respons intensitas bencana alam, termasuk gempa,” kata Andi, Selasa (13/2/2018).

Andi mengatakan bahwa uji dan audit tingkat respons infrastruktur pada intensitas bencana alam sangat penting. Pasalnya, audit tersebut bertujuan menguji daya tahan konstruksi menghadapi ancaman bencana.

“Ini yang kerap diabaikan atau dilupakan. Kita tidak tahu kenapa. Apa masalah efisiensi?” ujarnya.

Dia menambahkan bahwa Bank Dunia dalam Laporan Evaluasi Infrastruktur Global 2017 sudah merekomendasikan agar setiap proyek infrastruktur diwajibkan melakukan audit konstruksi rutin atau reguler.

“Apalagi, infrastruktur pada negara-negara miskin dan berkembang di dunia ketiga yang dicirikan dengan minimnya teknologi dan pemahaman baik atas berbagai potensi bencana alam yang ada," jelasnya.

Selain diperluas, Andi mengatakan bahwa audit konstruksi juga harus dilakukan secara rutin, terutama untuk proyek dan bangunan bertingkat berada di wilayah cincin gunung api (ring of fire) yang memiliki peluang bencana alam yang sangat tinggi.

”Kita lihat kemarin ada gempa lagi di Jakarta, sedangkan audit bangunan-bangunan di Jakarta sangat minim.”

Sejak Agustus 2017, sedikitnya 12 kecelakaan konstruksi telah terjadi. Artinya, bila dirata-ratakan, sedikitnya dua kali kejadian serupa terjadi dalam sebulan. Dari jumlah itu, lima di antaranya bermasalah pada pemasangan PCI girder, contohnya, kecelakaan terjadi di area kerja proyek LRT Velodrom—Kelapa Gading akibat jatuhnya box girder bulan lalu.

Tag : konstruksi, gapensi
Editor : Zufrizal

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top