Infrastruktur Dongkrak Kinerja Pelni Logistics

Realisasi pembangunan proyek-proyek infrastruktur turut mendongkrak kinerja perusahaan logistik. Sektor ini dinilai anomali karena sepanjang 2017 volume angkutan barang secara umum melambat.
Rivki Maulana | 14 Februari 2018 20:18 WIB
ilustrasi - bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA -- Realisasi pembangunan proyek-proyek infrastruktur turut mendongkrak kinerja perusahaan logistik. Sektor ini dinilai anomali karena sepanjang 2017 volume angkutan barang secara umum melambat.

Suharyanto, Direktur Utama PT Sarana Bandar Nasional atau Pelni Logistics mengatakan sektor infrastruktur telah mendorong permintaan jasa logistik untuk mobilisasi alat dan material. Dia mencontohkan, perseroan mendapat kontrak untuk memobilisasi tiang pancang dengan durasi dua tahun.

"Untuk pekerjaan itu kami gunakan empat tongkang. Infrastruktur ini menggerakkan banyak sektor," jelasnya kepada Bisnis.com, Rabu (14/2/2018).

Dia menerangkan, perseroan terlibat dalam penanganan alat dan material di sejumlah proyek infrastruktur, mulai dari Bitung, Gresik, Kotabaru, hingga Probolinggo. Penanganan alat dan material itu juga turut mengerek bisnis Pelni Logistics di segmen non captive atau segmen di luar induk usaha, PT Pelni (Persero).

Sepanjang 2017, total bongkar muat alat berat mencapai 772 unit atau 179% dari target yang ditetapkan. Di segmen non captive, bongkar muat alat berat mencapai 662 unit atau 221% dari target sebanyak 299 unit. Secara keseluruhan, di 2018 Pelni Logistics membidik bongkar muat alat berat sebanyak 865 unit atau tumbuh 12%.

Selain bongkar muat alat berat, Pelni Logistics juga menangani bongkar muat kargo umum, kontainer, kontainer TOl Laut dan angkutan ternak. Perseroan yang didirikan pada 1986 ini juga menangani bongkar muat sepeda motor, mobil, bus dan truk, serta alat berat.

Di sisi lain, Badan Pusat Statistik (BPS) melansir jumlah barang yang diangkut modal transportasi laut hanya tumbuh 1,62% sepanjang 2017, lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan pada 2016 sebesar 8,37%. Total barang yang diangkut selama 2017 mencapai 262,43 juta ton sedangkan pada 2016 mencapai 258,24 juta ton.

Data BPS menunjukkan, muatan barang di luar pelabuhan utama juga melambat, dari 8,91% di 2016 menjadi 1,95% di 2017. Pangsa pelabuhan lainnya mencapai 83% terhadap total muatan barang kapal laut.

Tren perlambatan juga terjadi di pelabuhan utama, yakni Pelabuhan Tanjung Priok dan Pelabuhan Tanjung Perak sedangkan tren pemulihan berlangsung di Pelabuhan Makassar. Sepanjang 2017, di Tanjung Priok dan Tanjung Perak, jumlah barang yang diangkut turun masing-masing 1,11% dan 6,35%.

Tag : infrastruktur
Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top