Selasar BEI Roboh, PII Luncurkan Buku Panduan Infrastruktur

Peristiwa robohnya selasar Bursa Efek Indonesia (BEI) beberapa waktu lalu memancing Persatuan Insinyur Indonesia (PII) untuk menerbitkan panduan terkait dengan infrastruktur, baik yang terkait dengan bangunan maupun sumber daya manusia.
Tegar Arief | 16 Februari 2018 14:17 WIB
Tim Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Polri melakukan pemeriksaan pada lantai mezanine selasar lobi utama gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (16/1/2018). - ANTARA/Dhemas Reviyanto

Bisnis.com, JAKARTA - Peristiwa robohnya selasar Bursa Efek Indonesia (BEI) beberapa waktu lalu memancing Persatuan Insinyur Indonesia (PII) untuk menerbitkan panduan terkait dengan infrastruktur, baik yang terkait dengan bangunan maupun sumber daya manusia.

PII meluncurkan buku berjudul Karya Keinsinyuran Indonesia 2007-2017. Buku ini menyajikan spesifikasi-spesifikasi teknis dari berbagai karya insinyur Indonesia, inovasi, kendala-kendala dan tantangan yang dihadapi pada saat membangun, sampai solusi-solusi uniknya.

Ketua Umum PII Hermanto Dardak mengatakan pihaknya memfasilitasi anggota untuk lebih produktif dan mampu menguasai teknologi terkini, yang memberikan kemaslahatan bagi masyaratat. Menyikapi kecelakaan dalam proyek infrastruktur yang marak saat ini, dia menekankan pentingnya zero accident.

“PII harus berkontribusi dalam pembangunan nasional. Tenaga yang menangani proses erection dan lifting ini harus benar-benar memiliki kompetensi untuk meminimalisasi kegagalan konstruksi,” papar Hermanto dalam keterangan resmi yang diterima Bisnis, Jumat (16/2/2018).

Menurutnya, yang harus diperhatikan bukan hanya proses pembangunan tapi juga bangunan yang sudah lama dibangun. Seharusnya, ada tenaga profesional seperti insinyur yang khusus menangani bangunan yang sudah jadi maupun yang berusia tua.

Hal senada disampaikan Wakil Ketua Umum PPI Heru Dewanto yang menilai maraknya kecelakaan dalam proses pembangunan infrastruktur bisa berdampak buruk terhadap citra atau reputasi insinyur Indonesia.

“Akibat kecelakaan ini jangan sampai menimbulkan kecemasan di masyarakat yang menggunakan infrastruktur,” ujarnya.

Dia menyebutkan dalam waktu kurang dari satu tahun terakhir ini sudah terjadi 15 kasus kecelakaan dalam proyek infrastruktur. Dalam proses pembangunan infrastruktur, dibutuhkan kelengkapan-kelengkapan, regulasi, standar-standar, peralatan yang memadai, dan sumber daya manusia yang andal di bidangnya. Oleh karena itu, kecelakaan yang terjadi bisa disebabkan adanya kegagalan struktur, kegagalan pemanfaatan atau kerusakan infrastruktur, dan kegagalan teknik atau prosedur.

Dalam buku tersebut, berbagai proyek infrastruktur yang dikerjakan para insinyur Indonesia dikupas dari berbagai aspek, sehingga diharapkan dapat menambah wawasan insinyur profesional, bahkan menjadi inspirasi.

Tag : infrastruktur
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top