Pemerintah Diminta Realistis Garap Proyek Kereta

Masyarakat Transportasi Indonesia meminta pemerintah tidak ambisius dalam mengejar target 23 proyek strategis nasional di sektor kereta api. Pemerintah disarankan mengevaluasi proyek-proyek yang berjalan lamban.
Rivki Maulana | 18 Februari 2018 19:15 WIB
Foto udara proyek pembangunan kereta cepat Jakarta-Bandung di perkebunan teh Maswati, Cikalong Wetan, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Selasa (6/2/2018). - ANTARA/Raisan Al Farisi

Bisnis.com, JAKARTA -- Masyarakat Transportasi Indonesia meminta pemerintah tidak ambisius dalam mengejar target 23 proyek strategis nasional di sektor kereta api. Pemerintah disarankan mengevaluasi proyek-proyek yang berjalan lamban.

Menurut Ketua Forum Transportasi Perkeretaapian MTI Aditya Dwi Laksana proyek berbasis rel tidak mudah diwujudkan dalam waktu cepat. Dia menggambarkan, proyek Kereta Bandara Soekarno Hatta memerlukan waktu hingga 6 tahun meski jalur baru yang dibuat hanya 12,6 km.

Di samping itu, mega proyek kereta api di Kalimantan saat ini juga belum berjalan, ditambah lagi dengan proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung yang baru mencatat pembebasan lahan 54%.

Aditya berpendapat sebaiknya pemerintah realistis dengan tidak mematok target yang terlampau tinggi dalam pengerjaan proyek berbasis rel. "Jangan sampai nafsu besar, tenaganya kurang," jelasnya kepada Bisnis.com, Minggu (18/2/2018).

Berdasarkan data yang dihimpun Bisnis.com, proyek berbasis rel berjalan paling lambat di antara sektor lain di bidang transportasi. Hanya 7 proyek yang sudah memulai konstruksi sedangkan 16 lainnya stagnan. Perencanaan yang tidak matang dinilai menjadi penyebab proyek berjalan lambat di samping ketersediaan dana yang tidak memadai dan kendala pembebasan lahan.

Aditya menyebutkan ada proyek berbasis rel terkesan lambat karena ketersediaan dana yang tidak memadai, perencanaan yang tidak matang, dan kendala pembebasan lahan.

Di tengah simpang siur ihwal progres proyek itu, pemerintah melempar wacana agar trase diperpanjang hingga Kertajati. Menurut Aditya, hal itu menjadi inkonsistensi dan mencerminkan perencanaan proyek yang tidak matang.

Tag : kereta api
Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top