Industri Agro Butuh Integrasi Jasa dan Sektor Pertanian

Penyatuan sektor pertanian atau agro dengan layanan jasa dianggap menjadi salah satu poin penting dalam mewujudkan industri agro.
Juli Etha Ramaida Manalu | 18 Februari 2018 17:44 WIB
/Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA— Penyatuan sektor pertanian atau agro dengan layanan jasa dianggap menjadi salah satu poin penting dalam mewujudkan industri agro.

Wakil Menteri Pertanian periode Januari 2010-Oktober 2011 Bayu Krisnamurthi mengemukankan bukan saatnya lagi pertanian atau agro dibedakan dari sektor layanan atau jasa.

“Apa bisa natural resource, industrial process, and services dipisah? Enggak bisa! Salah satu masalah paling berat di industri agro, selain bahan baku adalah support dari services terhadap industri agronya,” terangnya, Kamis (15/2).

Dia mencontohkan, Indonesia yang memiliki salah satu kekayaan hayati berupa beraneka ragam jenis bunga anggrek tetapi masih tertinggal dibanding Thailand dalam hal ekspor komoditas tersebut.

Menurutnya, bukan kualitas bunga yang membuat ekspor Indonesia untuk komoditas ini tertinggal melainkan absennya jasa yang bisa benar-benar mendukung.

“Kita kalah mengirim bunga anggrek dari Indonesia ke Belanda dibandingkan dengan dari Bangkok ke Belanda. Yang kalah bukan anggreknya, yang kalah Garuda, karena Garudanya tidak menyediakan dan mencoba mendesain support, ini satu contoh saja,” katanya.

Dia juga menyebutkan bahwa saat ini, lebih dari 90% pengangkutan ekspor produk agro ke negara tetangga, Singapura, juga masih menggunakan jasa negeri Singa tersebut.

“Kalau kita lihat sekarang pengangkutan ekspor kita ke Singapura, semua produk agro, itu 97% mengguakan jasa Singapura, hamper semua yang kita jual menggunakan FoB [Free on Board]. Kalau mau, jangan dipisahkan karena ini menjadi integrated process; farm, industry and services jadi satu,” paparnya.

Tag : pertanian, agro industri
Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top