Harga Kertas Naik, Penerbit Tahan Produksi

Kenaikan harga kertas membuat perusahaan penerbit buku cenderung menahan diri untuk menerbitkan buku baru terutama di bidang pendidikan hingga adanya penyesuaian harga eceran tertinggi (HET) dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Deandra Syarizka | 20 Februari 2018 15:43 WIB
Pabrik kertas. - .

Bisnis.com, JAKARTA— Kenaikan harga kertas membuat perusahaan penerbit buku cenderung menahan diri untuk menerbitkan buku baru terutama di bidang pendidikan hingga adanya penyesuaian harga eceran tertinggi (HET) dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Ketua Ikatan Penerbit Buku Indonesia (Ikapi) Rosidayati Rozalina mengatakan harga bahan baku kertas melonjak naik hingga di atas Rp16.000 per kilogram, lebih tinggi dari harga perkiraan dari Kemdikbud dan Komisi Pemilihan Umum sebagai pengguna anggaran di mana besarnya berkisar Rp12.000 –Rp13.000. Menurutnya, kenaikan harga bahan baku kertas ini akan berdampak pada tergerusnya profit penerbit hingga adanya penyesuaian HET dari pemerintah.

“Saya kira untuk penyedia buku pemerintah sekarang ini sedang menahan diri, karena kertasnya tidak tersedia, kalaupun tersedia harganya sangat tinggi. Dampaknya sudah pasti ke penyediaan buku pendidikan terhambat, padahal sedang disiapkan buku baru untuk kurikulium semester II,” ujarnya ketika dihubungi Bisnis, Senin (20/2/2018).

Dia menambahkan, saat ini asosiasi percetakan dan produsen kertas tengah merumuskan rekomendasi untuk menentukan harga ideal mengenai HET. Rencananya usulan tersebut akan disampaikan dalam rapat yang akan diadakan di Kementerian Perindustrian pada Rabu (21/2/2018).

“Dalam waktu seperti saat ini, HET untuk buku tidak bisa berjalan sendiri, harus dari hulunya yaitu kertas karena komponen bahan bakunya cukup besar,” jelasnya.

Untuk buku nonpendidikan, ujarnya, dia menilai penyedia buku yang berafiliasi dengan Gramedia tidak bisa sembarangan mengubah harga jual sebelum dilakukan sosialisasi selama sekitar satu hingga dua bulan. Di sisi lain, dia menyebut terdapat sejumlah penerbit yang memiliki distributornya sendiri yang melakukan penyesuaian harga dengan memasang pemberitahuan “harga bisa berubah sewaktu-waktu” di setiap tokonya.

Meski demikian, dia mengungkapkan volume produksi buku baru secara umum masih mengalami peningkatan setiap tahunnya. Hal ini terbukti dari jumlah judul buku baru yang mendapatkan nomor International standard book number (ISBN) dari Perpustakaan Nasional yang mencapai 100.000 judul baru pada tahun lalu.

Namun dia menjelaskan, tidak semua buku yang telah mendapatkan nomor ISBN dipastikan terbit. Oleh karena itu dia menilai meskipun volume judul buku baru yang terbit meningkat, tetapi jumlah eksemplar buku yang terjual cenderung menurun. Salah satu faktornya ditengarai selain kenaikan harga buku, juga adalah strategi bisnis distributor besar yang tengah memperbesar pasar non bukunya.

Pihaknya juga mengaku sulit untuk melacak data penjualan buku secara nasional baik yang dipasarkan melalui distributor besar seperti Gramedia maupun toko buku non Gramedia dan jalur independen.

Dia menggambarkan, pada tahun 2015 sebesar 60% dari pasar total buku secara nasional berasal dari proyek pengadaan buku pemerintah, sedangkan sisanya merupakan pasar buku umum. Menurutnya, proporsi tersebut belum mengalami perubahan berarti hingga saat ini.

Tag : kertas
Editor : Linda Teti Silitonga

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top