TARGET 2018: Peritel Didorong Lakukan Penyesuaian

Yongky Susilo, Staf Ahli Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) mengharapkan kalangan peritel modern format supermarket dan hipermarket membuat sejumlah langkah perubahan.
Agne Yasa | 20 Februari 2018 19:37 WIB
Pengunjung memilih minuman di salah satu gerai supermarket - Jibi/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA– Yongky Susilo, Staf Ahli Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) mengharapkan kalangan peritel modern format supermarket dan hipermarket membuat sejumlah langkah perubahan.

Gerai hipermarket agar memperbanyak produk premium, mengingat kebanyakan yang datang adalah konsumen kelas menengah dan atas untuk belanja bulanan.

Hipermarket agar dilengkapi tempat makan dan minum yang tidak sekadar kantin seperti sekarang, tapi restoran yang nyaman untuk memenuhi kebutuhan konsumen yang melakukan aktivitas belanja sekaligus berekreasi, atau melakukan sejumlah pertemuan.

Sementara itu format supermarket agar fokus dengan produk segar, dan membidik konsumen yang suka belanja mingguan. Produk fresh juga tidak dijumpai di toko minimarket.

Yongky berharap pertumbuhan penjualan di minimarket dan toko tradisional yang menjual FMCG bisa lebih terpacu omzetnya pada tahun ini untuk mencapai target nasional, mengngat pertumbuhan transaksi penjualan hipermarket dan supermarket tengah tertekan.

Data Nielsen menyebutkan pertumbuhan omzet minus 3,4% untuk format supermarket dan hipermarket pada 2017 dibandingkan 2016.  Sementara minimarket pada tahun lalu pertumbuhan omzetnya sebesar 6,4%.

“Minimarket biasanya  tumbuh di atas 20% [per tahun], jika omzet nasional naik 10%-11%/ tahun. Sedangkan supermarket dan hipermarket [pada kondisi itu omzetnya tumbuh] 9%-10%,” kata Yongky.

Dia mengemukakan pertumbuhan omzet supermarket dan hipermarket yang minus pada tahun lalu, karena ada kecenderungan konsumen membeli produk yang lebuh murah dan memilih gerai yang luasannya lebih kecil, seperti minimarket.

 “[Terjadi] trading down brand dan format. Beli produk yang lebih murah, juga [memilih berbelanja di] toko yang lebih kecil [untuk] menghindar dari over spending. Ke toko besar boros belanja,” kata Yongky.

Dia mengemukakan minusnya pertumbuhan omzet supermarket dan hipermarket terjadi sejak 2015-2017.

Diperkirakan butuh waktu dua tahun untuk bisa membuat perumbuhan omzet gerai hipermarket menjadi positif.

“Yang penting recovery minimarket dan tradisional yang lebih tinggil,” kata Yongky.

Untuk itu, Yongky berharap kalangan peritel modern format supermarket dan hipermarket membuat sejumlah langkah perubahan.

Gerai hipermarket agar memperbanyak produk premium, mengingat kebanyakan yang datang adalah konsumen kelas menengah dan atas untuk belanja bulanan.

Hipermarket agar dilengkapi tempat makan dan minum yang tidak sekadar kantin seperti sekarang, tapi restoran yang nyaman untuk memenuhi kebutuhan konsumen yang melakukan aktivitas belanja sekaligus berekreasi, atau melakukan sejumlah pertemuan.

Sementara itu format supermarket agar fokus dengan produk segar, dan membidik konsumen yang suka belanja mingguan. Produk fresh juga tidak dijumpai di toko minimarket. (Linda T. Silitonga)

Tag : ritel
Editor : Linda Teti Silitonga

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top