Kemendikbud Kaji Penggunaan Kertas Daur Ulang

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tengah melakukan kajian terhadap kemungkinan penggunaan jenis kertas daur ulang untuk produksi buku teks pendidikan pada tahun ini.
Deandra Syarizka | 20 Februari 2018 19:41 WIB
Pabrik kertas - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA—Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tengah melakukan kajian terhadap kemungkinan penggunaan jenis kertas daur ulang untuk produksi buku teks pendidikan pada tahun ini.

Kepala Pusat Kurikulum dan Perbukuan (Kapuskurbuk) Kemdikbud Awaluddin Tjalla, pihaknya menyadari adanya kenaikan harga bahan baku kertas hingga Rp15.000 per kilogram, lebih tinggi dari harga asumsi yang digunakan Kemdikbud saat menetapkan Harga Eceran Tertinggi (HET) buku pendidikan. Oleh karena itu, pihaknya tengah mengkaji penggunaan  bahan baku kertas alternatif yang lebih terjangkau.

“Kami sudah bahas hal ini pada minggu lalu. Sekarang bukan persoalan harga dulu, tetapi persoalan jenis kertas yang digunakan pada jenjang satuan pendidikan,” ujarnya ketika dihubungi Bisnis, Selasa (20/02).

Dia menjelaskan, pihaknya tidak bisa hanya melihat dari satu sisi dalam menentukan penyesuaian HET buku pendidikan. Menurutnya, peningkatan harga bahan baku kertas terjadi akibat melonjaknya permintaan ekspor ke sejumlah negara. Belum lagi adanya momentum pilkada pada tahun ini yang membuat kebutuhan kertas dalam negeri meningkat.

Awaluddin menerangkan, saat ini harga HVS 70 gram yang menggunakan kertas daur ulang  hanya Rp12.000 per kilogram, jauh lebih murah dari kertas HVS 70 gram yang biasa yang saat ini harganya mencapai Rp15.000. Dia mengakui, tingkat keputihan kertas daur ulang tidak seterang kertas baru. Namun menurut para praktisi yang terlibat dalam kajian, kondisinya masih cukup layak untuk dijadikan buku pelajaran. Selain itu, kertas daur ulang juga memiliki dampak positif bagi lingkungan.

Pihaknya pun berkomitmen untuk mempercepat pembuatan dummy buku pendidikan yang menggunakan kertas daur ulang agar selesai akhir bulan ini. Selanjutnya hasil kajian tersebut akan disampaikan ke direktorat terkait untuk kemudian diputuskan apakah akan menjadi standar yang digunakan secara nasional atau tidak.

Adapun berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nomor 173/P/2017 tentang Penetapan Harga Eceran Tertinggi Buku Teks Pelajaran  Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah Kurikulum 2013, bahan kertas yang digunakan untuk isi  buku teks adalah HVS 70 g/m2, dengan tingkat keterangan 75% hingga 85%. Sementara kualifikasi kertas daur ulang yang tengah diuji coba adalah HVS 70 g/m2, dengan tingkat keterangan 70%  - 85%.

“Kemudian kami baru melakukan survei di lapangan untuk menentukan HET. Sebetulnya HET sangat bergantung pada jenis kertas yang digunakan untuk jenjang SD, SMP, SMA,” jelasnya.

Menurutnya, saat ini semua satuan pendidikan telah menggunakan buku teks kurikulum 2013, dengan jumlah kebutuhan sekolah yang menggunakan buku tersebut mencapai total 78.891 sekolah di seluruh Indonesia. Jumlah terbanyak merupakan tingkat SD sebanyak lebih dari 55.000, selanjutnya SMA sekitar 14.000 sekolah, SMK 3.000 sekolah, dan sisanya tingkat SMP.

Adapun jumlah kebutuhan kertas untuk Tahun Ajaran 2018-2019 mencapai 88.215,09 ton, terdiri dari tingkat SD dan SMP mencapai lebih dari 40 ribuan ton, SMP 26.900 ton, SMA, SMK serta Madrasah Aliyah mencapai 18.577 ton.

 

Tag : kertas
Editor : Linda Teti Silitonga

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top