PAMERAN ALAT PERTAHANAN: Swasta Ingin Unjuk Gigi

Para produsen alat pertahanan swasta nasional akan berkumpul di Jakarta pada Rabu (21/2/2018) esok.
Anggara Pernando | 20 Februari 2018 20:14 WIB
Presiden Joko Widodo (tengah) melihat-lihat tank produksi PT Pindad di Divisi Senjata PT Pindad, Bandung, Jawa Barat, Senin (12/1). Presiden mendorong berkembangnya industri alustista produksi dalam negeri guna memenuhi kebutuhan pertahanan nasional. - ANTARA

Bisnis.com, JAKARTA – Para produsen alat pertahanan swasta nasional akan berkumpul di Jakarta pada Rabu (21/2/2018) esok.

Ketua Harian Persatuan Industri Pertahanan Swasta Nasional (Pinhantanas) Jan Pieter Ate menyatakan dalam pertemuan itu akan digelar pameran produk Industri Pertahanan (Indhan) dan Industri Keamanan (Indkam).

"“Sesungguhnya kami punya kemampuan yang harus kita gunakan supaya devisa negara bisa mengalir ke dalam negeri. Dalam arti penyerapan tenaga kerja dan kebutuhan TNI-Polri hasil karya anak bangsa,” kata Jan Pieter melalui keterangan tertulis, Selasa (20/2/2018).

Kemampuan swasta nasional dalam memproduksi alat pertahanan, kata dia, sudah tidak perlu diragukan. Saat ini para produsen ini sudah mampu membuat produk seperti pesawat tanpa awak, kendaraan taktis, kapal perang, hingga bom.

Dengan kemampuan swasta ini, dia mengaharapkan swasta nasional diajak untuk menjadi mitra pemerintah. Khususnya dalam pembinaan industri pertahanan dan keamanan.

“Kami ingin menjadi semacam quality control dan memverifikasi pelaku industri pertahanan dan keamanan,” kata Jan Pieter.

Pinhantanas merupakan asosiasi yang berdiri pada 21 Maret 2017. Menurut data inventarisasi sementara, saat ini ada 81 pelaku industri pertahanan keamanan swasta nasional yang berpotensi menjadi anggota Pinhantaas. 39 di antaranya sudah mendaftar, sedangkan 46 lainnya sudah terverifikasi.

Untuk menjadi anggota asosiasi ini, manufaktur harus memiliki fasilitas Penelitian dan Pengembangan (Research and Development - RnD).

“Ini supaya anggota Pinhantanas benar-benar punya kemampuan merancang, membuat, memproduksi, hingga pengembangan produk. Bukan sekadar impor lalu mengubah logo dari pabrikan aslinya,” katanya.

Tag : pertahanan
Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top