BLOK MIGAS TERMINASI, Pilihan PHE Terhadap Kontraktor Existing Dinilai Sudah Tepat

Langkah PT Pertamina Hulu Energi memilih mitra dari operator saat ini (existing) cukup tepat karena bisa menjaga tingkat produksi bisa lebih mudah dicapai.
Surya Rianto | 21 Februari 2018 17:18 WIB
Ilustrasi pengeboran minyak. - Bloomberg/Jeyhun Abdulla

Bisnis.com, JAKARTA - Langkah PT Pertamina Hulu Energi memilih mitra dari operator saat ini (existing) cukup tepat karena bisa menjaga tingkat produksi bisa lebih mudah dicapai.

Pengamat Energi Reforminer Komaidi Notonegoro mengatakan, ada unsur strategis atas keputusan Pertamina Hulu Energi mengajak kembali operator existing sebagai mitra.

"Soalnya, bila menggandeng operator existing, minimal kepentingan menjaga produksi bisa lebih mudah dicapai," ujarnya kepada Bisnis pada Rabu (21/2).

Namun, Komaidi menyebutkan, bila Pertamina menginginkan mengajak kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) dari pihak lain pun bukan sebuah masalah besar.

"Asalkan, hitung-hitungan bisnis jelas dan berdasar," sebutnya.

Direktur Utama Pertamina Hulu Energi Gunung Sardjono Hadi mengatakan, beberapa pihak mitra existing sudah diajak bicara. Pertama, Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) yang memiliki alokasi saham 10%.

"Kalau mereka tertarik, kami akan bakal sama-sama membutuhkan dan maju, tetapi kami siap maju sendiri kalau mereka tidak tertarik," sebutnya.

Dia menyebutkan, mitra existing kedua adalah dari Petrochina dan Jadestone Energy yang Joint Operating Body (JOB) di Tuban dan Ogan Komering.

"Mereka [Petrochina dan Jadestone Energy] sudah mengaku tertarik dan sepakat untuk bersama-sama, tinggal tunggu dari Pertamina induk saja," sebutnya.

Pertamina Hulu Energi (PHE) pun mencatat sudah mendapatkan penugasan untuk mengelola 5 blok terminasi dari total 8 blok yang ditugaskan kepada Pertamina.

Kelima blok itu antara lain, Tuban, Ogan Komering, Southeast Sumatra (SES), North Sumatra Offshore (NSO), dan North Sumatra B (NSB).

Sebenarnya, PHE adalah pengelola existing atas 4 blok dari 5 blok migas terminasi tersebut.

Anak usaha Pertamina itu menjadi pengelola di blok Tuban dalam skema JOB dengan Petrochina.

PHE juga terlibat sebagai pengelola pada blok Ogan Komering dengan perusahaan asal Kanada yakni, Talisman Energy. Namun, Talisman Energy menjual 50% kepemilikannya kepada Jadestone Energy sehingga JOB Ogan Komering menjadi antara PHE dengan perusahaan Kanada tersebut.

Lalu, sejak 2015, PHE juga menjadi pengelola blok NSO dan NSB dari operator sebelumnya yakni, Exxon Mobil.

Adapun, blok SES menjadi satu-satunya blok terminasi yang bukan merupakan pengelolaan PHE sebelumnya.

Sampai masa terminasi 2018, blok SES dikelola oleh China National Offshore Oil Corporation (CNOOC).

Tag : blok migas
Editor : Sepudin Zuhri

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top