Sektor Ritel Diproyeksi Tumbuh Moderat Tahun Ini

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira optimistis penjualan ritel pada 2018 akan naik moderat, yakni di kisaran 5%-6%. Peluang pertumbuhan turut didukung meningkatnya upah buruh dan harga komoditas di pasar internasional.
Nur Faizah Al Bahriyatul Baqiroh | 22 Februari 2018 08:23 WIB
Pengunjung berada di Lotus Department Store di Jakarta, Senin (23/10). - JIBI/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA -- Kenaikan upah buruh dan terus membaiknya harga komoditas diperkirakan dapat mendorong pertumbuhan di sektor ritel Indonesia.

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira optimistis penjualan ritel pada 2018 akan naik moderat, yakni di kisaran 5%-6%. Peluang pertumbuhan turut didukung meningkatnya upah buruh dan harga komoditas di pasar internasional, termasuk batu bara dan minyak.

"Diharapkan sektor ritelnya ada di luar Jawa, didukung harga komoditas. Kemudian, ada transmisi nanti kita lihat sekitar bulan Juni itu kan Lebaran ya. Diharapkan pada Juni tahun ini ritelnya bisa lebih baik dibandingkan Ramadan 2017," sebutnya kepada Bisnis, Rabu (21/2/2018). 

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), upah nominal harian buruh tani nasional pada Januari 2018 naik 1,07% dibandingkan bulan sebelumnya menjadi Rp51.110 per hari. Sementara itu, upah riil turun 0,15%.

Upah nominal harian buruh bangunan (tukang bukan mandor) meningkat 0,89% dari Rp84.454 per hari menjadi Rp85.206 per hari. Adapun upah riil tumbuh 0,26%.

Jika dibandingkan dengan posisi Januari 2017, maka upah nominal harian buruh tani meningkat 4,3% secara year-on-year (yoy) dan upah nominal harian buruh bangunan naik 2,12%.

Adapun pertumbuhan sektor ritel pada semester I/2017 hanya 3,7%, berdasarkan perhitungan Nielsen Indonesia. Padahal, Ramadan tahun lalu jatuh pada Juni.

Bhima juga mengatakan pertumbuhan e-commerce di Indonesia perlu diperhatikan. Porsi e-commerce yang masih di kisaran 1% dari total ritel nasional pada 2017, diyakini bakal bertambah menjadi lebih dari 2,5% pada tahun ini. 

Meski porsinya masih terbilang rendah, tapi dampaknya dirasakan oleh sektor-sektor lain termasuk yang konvensional. Dia juga menyarankan agar para pengusaha ritel lebih inovatif, lebih kreatif dan dapat menggabungkan porsi penjualan e-commerce dan offline.

"Jadi, [pelaku konvensional] harus banyak berkolaborasi dengan pelaku e-commerce kalau mau survive. Sekitar 48% produk yang dijual di e-commerce itu adalah pakaian jadi, sehingga itu yang bisa menjelaskan kenapa sepanjang 2017 banyak toko-toko ritel yang menjual pakaian jadi  tutup semua. Memang ada pergeseran kecil, cuma ini harus diantisipasi oleh pelaku konvensional," tambah Bhima.

Tag : ritel
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top