Teknologi Baru Produksi Garam Dikaji

Pemerintah sedang mengkaji teknologi baru produksi garam yang diyakini bakal mengurangi ketergantungan pada matahari. Inovasi itu juga dipercaya akan mengerek produktivitas.
Sri Mas Sari | 22 Februari 2018 17:17 WIB
Petani memanen garam di desa Tanjakan, Karangampel, Indramayu, Jawa Barat, Kamis (21/9). - ANTARA/Dedhez Anggara

Bisnis.com, JAKARTA - Pemerintah sedang mengkaji teknologi baru produksi garam yang diyakini bakal mengurangi ketergantungan pada matahari. Inovasi itu juga dipercaya akan mengerek produktivitas.

Direktur Jasa Kelautan Kementerian Kelautan dan Perikanan M. Abduh Nurhidajat mengatakan teknologi tersebut mengombinasikan pendekatan kimia dan fisika untuk mempercepat proses penguapan alias evaporasi.

Menurut dia, perlakuan kimia (chemical treatment) itu dapat mempercepat panen dari 70 hari menjadi 7 hari. Produktivitasnya pun diyakini lebih tinggi dari yang ada selama ini 80-100 ton per hektare per tahun.

Dari teknologi itu pula, produsen tidak hanya memperoleh natrium klorida (NaCl) yang terkandung dalam garam, tetapi juga bisa mendapatkan hasil sampingan, seperti magnesium dan kalium

KKP saat ini sedang mengkaji teknologi itu di Indramayu, Jawa Barat, di demonstration plot seluas 1 ha, dengan menggandeng pakar kimia dan koperasi petambak garam setempat.

"Kami sekarang menunggu proses keberhasilannya. Tunggu saja dua bulan lagi," katanya, Kamis (22/2/2018).

Selama ini, evaporasi sangat bergantung pada matahari. Akibatnya, produksi garam nasional fluktuatif. Saat musim kering melanda 2015 akibat El Nino, produksi garam mencapai titik tertinggi 2,7 juta ton. Produksi langsung jatuh ke angka 114.000 ton setahun kemudian saat musim kemarau basah melanda akibat La Nina.

Kendati belum diketahui berapa biaya produksi per hektare jika menggunakan teknologi itu, Abduh mengatakan KKP akan merancang agar inovasi itu mampu dijangkau oleh petambak garam rakyat.

Pemerintah sebelumnya telah memperkenalkan teknologi produksi garam untuk mengurangi ketergantungan pada sinar matahari, seperti rumah garam prisma. Sayangnya, teknologi itu sulit diaplikasikan petambak karena investasinya mahal.

"Yang jelas biaya produksi garam akan lebih rendah dari yang ada selama ini. Petambak juga akan mendapatkan keuntungan dari penjualan hasil sampingan," tuturnya.

Dalam catatan KKP, biaya pokok produksi garam rakyat Rp600 per kg-Rp700 per kg.

Tag : garam
Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top