Pengembang EBT Nilai Permen 50/2017 Tak Menarik, Jonan: Masih Banyak yang Lain

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan menegaskan tidak akan merevisi Peraturan Menteri ESDM Nomor 50 Tahun 2017 tentang Pemanfaatan Sumber Energi Terbarukan Untuk Penyediaan Tenaga Listrik.
Denis Riantiza Meilanova | 23 Februari 2018 07:52 WIB
Energi terbarukan - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA -- Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan menegaskan tidak akan merevisi Peraturan Menteri ESDM Nomor 50 Tahun 2017 tentang Pemanfaatan Sumber Energi Terbarukan Untuk Penyediaan Tenaga Listrik.

Hal ini disampaikannya dalam menanggapi keluhan pengembang pembangkit listrik swasta yang menginginkan regulasi tersebut direvisi karena dinilai tidak menarik dan bankable.

"Enggak jadi [direvisi]," kata Jonan usai menjadi pembicara kunci dalam acara Renewable Innovation Forum di Jakarta, Kamis (22/2/2018).

Sebelumnya, sebanyak delapan asosiasi produsen listrik mengadu kepada Wakil Presiden Jusuf Kalla atas aturan yang tercantum dalam Permen ESDM 50/2017 yang dinilai menghambat investasi dan pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT).

Beberapa hal dalam Permen tersebut yang dianggap mempersulit investor, salah satunya adalah skema bangun, miliki, operasikan, dan transfer ke negara (build, own, operate, and transfer/BOOT).  Dalam skema ini, aset pengembang selama 20 tahun-30 tahun akan diserahkan kepada PT PLN (Persero).

Menurut Ketua Asosiasi Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) Riza Husni, skema BOOT menyulitkan pengembang dalam memperoleh pendanaan. Hal itu terlihat banyaknya perusahaan yang masih belum mendapatkan kepastian pendanaan. 

Dia menyebutkan dari 68 perusahaan pembangkit energi baru terbarukan yang sudah menandatangani perjanjian jual beli listrik (power purchase agreement/PPA) pada 2017, masih terdapat 55 perusahaan yang hingga saat ini belum mencapai kepastian pendanaan (financial close).

Merespons hal tersebut, Jonan mengaku tidak masalah bila pengembang tersebut tidak tertarik mengembangkan proyek pembangkit berbasis energi baru dan terbarukan dengan aturan yang ada.  Menurutnya, masih banyak pengembang yang mampu dan mau mengerjakan proyek tersebut.

"Yang bisa kerjakan juga masih banyak," ujar Jonan.

Dia menginginkan pengembangan pembangkit EBT harus menghasilkan harga jual listrik yang terjangkau bagi masyarakat. Untuk itu, tarif yang ditawarkan ke pengusaha tidak terlalu tinggi.

"Banyak pengembang yang terus komplain kepada saya bahwa tarif terlalu rendah. Pekerjaan saya bukan membuat keuntungan pengusaha semakin kecil, tapi memastikan harga terjangkau oleh masyarakat," tukas Jonan.

Tag : esdm
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top