Penugasan Blok Terminasi ke Pertamina, Pengamat: Lihat Dulu Kesiapannya

Penugasan blok terminasi kepada PT Pertamina (Persero) harus lebih selektif. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral pun harus melihat kesiapan perusahaan pelat merah tersebut dalam mengelola blok terminasi tersebut,
Surya Rianto | 26 Februari 2018 18:49 WIB
Blok Tuban. - Antara

Bisnis.com, JAKARTA -- Penugasan blok terminasi kepada PT Pertamina (Persero) harus lebih selektif. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral pun harus melihat kesiapan perusahaan pelat merah tersebut dalam mengelola blok terminasi tersebut.

Pengamat Energi ReforMiner Komaidi Notonegoro mengatakan, pengambilalihan blok terminasi harus lebih hati-hati. Pasalnya, blok migas terminasi itu bisa menjadi aset, tetapi juga bisa menjadi liabilitas.

"Kalau cadangan tidak bagus bisa berimbas produksi juga turun sehingga menyebabkan margin menjadi di bawah rata-rata," ujarnya pada Senin (26/2).

Komaidi pun mengatakan, jika blok tua terminasi terus diberikan kepada Pertamina justru akan membuat biaya cost recovery perusahaan pelat merah itu terus naik.

"Jadi, percuma juga kalau volume kepemilikan blok migas Pertamina banyak, tetapi yang sudah berumur tua," ujarnya.

Apalagi, Pertamina memiliki banyak penugasan yang cenderung menjadi beban untuk perusahaan migas nasional tersebut.

Komaidi mengatakan, pemerintah perlu menanyakan kesiapan lebih lanjut kepada Pertamina untuk penugasan ke depannya. Indikator kesiapan pun meliputi finansial, potensi ekonomi, plan of development (POD), dan analisis.

"Namun, kalau dalam konteks blok terminasi tidak jeli bisa menyebabkan margin Pertamina turun," ujarnya.

SKK Migas sempat menyebutkan, biaya cost recovery Pertamina dinilai lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata nasional. Pertamina memiliki cost recovery sekitar US$20 per barel, sedangkan rata-rata nasional sekitar US$18 per barel - US$19 per barel.

SKK Migas ingin menekan biaya cost recovery PT Pertamina (Persero) agar bisa setara dengan rata-rata nasional. Tingkat cost recovery perusahaan pelat merah itu dinilai masih tinggi di atas rata-rata nasional karena luas operasi wilayah mencakup Sabang sampai Merauke.

Kepala Divisi Program dan Komunikasi SKK Migas Wisnu Prabowo Taher mengatakan, secara umum rata-rata biaya recovery Pertamina pada 2017 sekitar US$20 per barel, sedangkan rata-rata nasional berada sekitar US$18 per barel sampai US$19 per barel.

"PT Pertamina EP, anak usaha Pertamina, menjadi salah satu yang tingkat cost recovery agak tinggi,"

Tag : blok cepu
Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top