Pengalengan Ikan: Permintaan Naik, tapi Bahan Baku Sulit

Permintaan ikan tuna kaleng meningkat tahun ini, tetapi kemampuan produsen terbatas karena diadang persoalan pasokan bahan baku yang minim.
Sri Mas Sari | 26 Februari 2018 16:45 WIB
ilustrasi - bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA - Permintaan ikan tuna kaleng meningkat tahun ini, tetapi kemampuan produsen terbatas karena diadang persoalan pasokan bahan baku yang minim.

Permintaan ekspor ikan kaleng PT Samudra Mandiri Sentosa, perusahaan pengalengan ikan tuna di Bitung, Sulawesi Utara, sudah memperlihatkan kenaikan awal tahun ini.

Vice President of Operation PT Samudra Mandiri Sentosa (SMS) Abrizal Ang mengatakan order dari importir di Amerika Serikat dan Eropa melonjak 30% dari volume tahun lalu. Di sisi lain, pasar domestik juga memiliki potensi besar mengingat konsumsi ikan kaleng di Indonesia masih rendah meskipun berpenduduk banyak.

Sayangnya, tutur dia, permintaan yang tinggi tidak dapat diimbangi oleh suplai bahan baku yang memadai. Meskipun telah memperluas pencarian sumber bahan baku hingga ke Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur --selain tentu saja Bitung-- perusahaan tetap kesulitan memenuhi kapasitas terpasang 100 ton per hari.

Tambahan bahan baku hanya berhasil mendongkak kapasitas terpakai (utilisasi) SMS dari 20 ton per hari tahun lalu menjadi 40 ton per hari saat ini.

"Percuma pasar banyak kalau ikannya enggak ada," kata Abrizal saat dihubungi, Senin (26/2/2018).

Menurut dia, kesulitan bahan baku terjadi sejak alih muatan di tengah laut (transshipment) diperketat. Masalah diperparah dengan pemberian izin penangkapan ikan yang lama. Otoritas menjanjikan penerbitan izin 5 hari, tetapi kenyataannya bisa menelan waktu berbukan-bulan.

SMS memproduksi tuna kaleng yang 99% produknya diekspor dengan berbagai merek. Pasar ekspornya meliputi Jerman, Denmark, Inggris, Portugal, Italia, Norwegia, AS, Kanada, Brasil, Jepang, Korea, Thailand, Singapura, Filipina, dan Australia. Adapun sebagian kecil produksi dilempar ke pasar domestik dengan merek Ikan Tuna SMS.

Perusahaan pengalengan ikan tuna lainnya di Bitung, PT Delta Pasific Indotuna, juga mengalami peningkatan permintaan. Plant Manager PT Delta Pasific Indotuna (Delpi) Basmi Said mengatakan perusahaan kewalahan menerima order dari Timur Tengah, juga beberapa negara di Eropa. Jika dirata-rata, permintaan mencapai 60 ton per hari.

Padahal, Delpi hanya sanggup memproduksi 30 ton per hari atau 38% dari kapasitas terpasang 80 ton per hari karena suplai bahan baku tidak memadai. Karena keterbatasan itu pula, Delpi hanya mampu memenuhi order importir di Timur Tengah sebanyak 25 ton, padahal permintaan mencapai 102 ton.

"Pasokan bahan baku sulit diprediksi. Kami tidak bisa penuhi permintaan begitu saja karena takut seperti tahun lalu, kami kena penalti," ungkapnya.

Seluruh produksi Delpi selama ini diekspor ke negara-negara Timur Tengah, sebagian Afrika, Amerika Serikat, Meksiko, Thailand, Malaysia, dan Jepang, dengan merek utama Aloha dan Bona.

Basmi mengatakan hampir 70% bahan baku Delpi dipenuhi dari Muara Baru. Sisanya dari sekitar Bitung. Harga tuna dan cakalang yang turun ke posisi Rp20.000 per kg sejak akhir 2017 dari sebelumnya Rp24.000 per kg membantu mengerek utilisasi Delpi. Kapasitas terpakai pabrik Delpi tahun lalu hanya 22 ton per hari.

Basmi yang juga Ketua Asosiasi Unit Pengolahan Ikan (UPI) Bitung mengatakan ketersendatan pasokan bahan baku terus berlanjut karena pemerintah tidak kunjung merealisasikan janji menambah kapal pengangkut –kapal penyangga dalam terminologi KKP—di Bitung.

Saat ini, jumlah kapal penyangga di Bitung hanya 20 unit sejalan dengan penerapan Peraturan Dirjen Perikanan Tangkap No 1/Per-DJPT/2016 tentang Penangkapan Ikan dalam Satu Kesatuan Operasi.

Beleid yang berlaku mulai April 2016 itu menetapkan jumlah kapal penyangga hanya satu unit untuk mengangkut hasil tangkapan tiga kapal penangkap dalam satu kerja sama kemitraan alias satu kesatuan operasi. Keterbatasan armada penyangga itu membuat aktivitas pengangkutan ikan dari tengah laut ke pelabuhan pendaratan ikan terbatas. Akibatnya, pasokan ikan ke UPI tersendat.

UPI di Kota Cakalang ingin agar kapal penyangga ditambah. Namun, Basmi mengatakan janji pemerintah pusat menambah kapal penyangga hingga menjadi 60 unit tidak kunjung dipenuhi.

Data sementara Asosiasi UPI Bitung merekam utilisasi 2017 mencapai 185 ton per hari atau 13,2% dari kapasitas terpasang 1.414 ton per ton. Angka itu naik dibandingkan dengan 2016 yang hanya sekitar 120 ton per hari (8,3%), tetapi masih jauh dari harapan bila dibandingkan dengan 2014 yNg sekitar 760 ton per hari atau 53% dari kapasitas terpasang.

"Belum ada tanda-tanda pemerintah pusat memperlunak peraturan atau sistem satu-kesatuan manajemen kapal tangkap purse seine. Unit pengolahan ikan kota Bitung masih jalan di tempat," kata Basmi.

Tag : perikanan, pengalengan ikan
Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top