TKDN Smartphone Dongkrak Produksi dan Tekan Impor

Pada 2017, industri lokal memproduksi 60,5 juta unit ponsel untuk 34 merek termasuk 11 merek lokal.
Duwi Setiya Ariyanti | 28 Februari 2018 14:17 WIB
Komponen di dalam Samsung Galaxy S9 - Samsung.com

Bisnis.com, JAKARTA — Langkah pemerintah menaikkan syarat minimum konten lokal berhasil mendongkrak produksi ponsel dalam 4 tahun terakhir. Di sisi lain, impor ponsel terus merosot.

Data Kementerian Komunikasi dan Informatika menyatakan volume impor ponsel hanya mencapai 11,4 juta unit pada 2017. Pada 2013, Indonesia mengimpor hingga 60 juta unit ponsel.

Industri dalam negeri hanya memproduksi 105.000 ponsel untuk 2 merek lokal pada 2013. Pada 2017, industri lokal memproduksi 60,5 juta unit ponsel untuk 34 merek termasuk 11 merek lokal.

Direktur Industri Elektronika dan Telematika Kementerian Perindustrian, Achmad Rodjih Almanshoer mengatakan kebijakan tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) sebenarnya mendorong produksi dalam negeri.

Kendati demikian, dia menyebut pihaknya terus mengoptimalkan kemampuan ekosistem industri dengan menumbuhkan industri penunjang.

Kemenperin sebelumnya menyatakan akan menaikkan bobot TKDN untuk ponsel, komputer genggam dan tablet secara bertahap.

Pada 2017, bobot TKDN wajib dinaikkan dari 20% ke 30%. Syarat minimum tersebut rencananya dinaikkan kembali pada 2019 sambil menanti kesiapan industri penunjang.

Saat ini, terdapat 24 perusahaan lokal yang mampu memproduksi printed circuit board assembly (PCBA) atau perakitan papan rangkaian tercetak, adaptor, pelantang telinga atau earphone, kabel USB hingga baterai.

“Kami akan konsisten menerapkan produksi dalam negeri melalui kebijakan TKDN, dan tentunya untuk menumbuhkan industrinya dan industri penunjang, agar struktur industri menjadi kuat,” ujarnya saat dihubungi Bisnis, Selasa (27/2).”

Salah satu vendor yang memperkuat kapasitas produksi adalah Evercoss. Pabrik baru Evercoss ditargetkan beroperasi pada kuartal III/2018. Setelah pabrik baru beroperasi, kapasitas produksi produsen ponsel pintar tersebut naik menjadi 150.000 unit per bulan.

Marketing Communication Manager Indopasifik Group Suryadi Willim mengatakan pabrik baru Evercross yang berlokasi di Kawasan Bukit Semarang Baru City, Semarang, Jawa Tengah masih dalam tahap konstruksi.

“Seharusnya kuartal III/ 2018 beroperasi,” ujarnya

Di lahan pabrik Evercoss yang saat ini sudah beroperasi, kata Suryadi, terdapat tiga kavling lahan dengan dua kavling yang belum terbangun.

Saat ini, kapasitas produksi Evercoss adalah 100.000 unit per bulan. Setelah pabrik baru yang berada bersebelahan itu beroperasi, kapasitas produksinya Evercoss naik 50% atau menjadi 150.000 unit per bulan. Untuk membangun pabrik tersebut, pihaknya mengeluarkan investasi sebesar Rp800 miliar. 

 Dia berharap pabrik tersebut bisa berkontribusi mengingat penjualan ponsel pintar tahun ini akan tumbuh sebesar 8%. Selain itu, melalui inovasi yakni membawa fitur ponsel premium untuk kelas low-end dan menjamah saluran-saluran distribusi, dia optimistis porsi pasar yang dikuasai Evercoss bisa naik dari tahun lalu yakni 4% ke 6% pada tahun 2018.

Rencananya, setiap kuartalnya akan terdapat dua ponsel baru dari Evecoss yang fokus menyasar pasar ponsel dengan harga di bawah Rp1,5 juta per unit. Dengan demikian, pada tahun ini totalnya terdapat delapan ponsel baru yang dirilis. Angka ini lebih besar dari tahun lalu dengan empat ponsel baru yang dikeluarkan Evercoss.

Tag : smartphone
Editor : Demis Rizky Gosta

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top