Pabrik Serat South Pacific Viscose Terima Izin Perpanjangan Pengelolaan Limbah B3

PT. South Pacific Viscose menerima perpanjangan izin pengolahan limbah bahan beracun dan berbahaya dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).
Anggara Pernando | 08 Maret 2018 09:33 WIB
Ilustrasi kegiatan di pabrik tekstil. - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA -- PT. South Pacific Viscose menerima perpanjangan izin pengolahan limbah bahan beracun dan berbahaya dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). 

Head of Corporate Affairs PT. South Pacific Viscose Widi Nugroho Sahib mengatakan saat ini pabriknya memiliki kapasitas pengolahan 323 kilo ton per tahun. Produk yang dihasilkan berupa serat alam berbahan dasar kayu dengan penjualan ekspor dan dalam negeri masing-masing 50%. 

"Dengan turunnya perpanjangan dari KLHK ini kami harapkan 0perasional perusahaan berjalan lancar," kata Widi ketika dihubungi, Rabu (7/3/2018). 

Perpanjangan izin bagi SPV tertuang melalui Surat Keputusan nomor : 147 / Menlhk / Setjen / PLB.3 / 3 / 2018 untuk kegiatan pengolahan limbah B3 di PT. South Pacific Viscose yang berlokasi di Purwakarta. Surat ini ditandatangani oleh Menteri KLHK Siti Nurbaya tertanggal 6 Maret lalu. 

Setelah terbitnya SK perpanjangan pengolahan limbah B3 itu, Widi mengharapkan tidak ada lagi gangguan stabilitas keamanan & ketertiban yang dialami oleh produsen serat alami berbahan dasar kayu ini. Pasalnya dalam 2 bulan terakhir; perusahaan PMA dari Austria ini kerap didemo dari LSM yang mengusung isu pencemaran lingkungan dan serta tuduhan pencemaran sungai Citarum.

SPV disebutkan mempekerjakan sekitar 1.750 orang karyawan. Perusahaan yang sudah beroperasi selama 35 tahun itu diperkirakan juga membawa efek pertumbuhan ekonomi bagi 5.000 orang di sekitar pabrik.

Widi menjamin SPV akan berinvestasi di dalam pengelolaan lingkungan dalam bentuk menjaga emisi buang baik ke udara, tanah, dan air agar di bawah baku mutu sesuai regulasi pemerintah. 

Tag : tekstil
Editor : Ratna Ariyanti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top