Kalbe Farma Siapkan Pabrik Terintegrasi di Cikarang, Jawa Barat

PT Kalbe Farma Tbk. tengah membangun pabrik terintegrasi di Cikarang, Jawa Barat.
Annisa Sulistyo Rini | 08 Maret 2018 09:37 WIB
Presdir Kalbe Farma Vidjongtius (dari kiri), PreskomInnolab Sains Internasional Sie Djohan, President & CEO Hoken Kgaku Kenkyujo Inc. Yoshizoh Kugawa dan Managing Executive Officer Toyota Tsusho Corporation Takeshi Matshushita di sela-sela peluncuran laboratorium klinik Kalgen Innolab, di Jakarta, Kamis (18/1). - JIBI/Felix Jody Kinarrwan

Bisnis.com, JAKARTA--PT Kalbe Farma Tbk. tengah membangun pabrik terintegrasi di Cikarang, Jawa Barat. 

Direktur Utama Kalbe Farma Vidjongtius mengatakan pembangunan pabrik tersebut dimulai pada tahun ini dan diperkirakan selesai secara fisik pada 2019 dan mulai beroperasi pada 2020.

"Lokasinya di Cikarang, sekitar 1 kilometer--2 kilometer dari pabrik biosimilar. Nanti pabrik ini akan memproduksi obat bebas dan suplemen," ujarnya di Jakarta, Rabu (7/3/2018).

Pembangunan pabrik terintegrasi disebutkan bakal melibatkan empat anak perusahaan emiten dengan kode saham KLBF tersebut. Perseroan menyiapkan belanja modal senilai Rp500 miliar hingga Rp600 miliar untuk membangun pabrik ini dari total capex 2018 senilai Rp1 triliun hingga Rp1,5 triliun.

Vidjongtius menuturkan pabrik terintegrasi ini memiliki luas 20 hektare atau lebih luas dibandingkan dengan pabrik biosimilar yang baru saja diresmikan pada bulan lalu. Adapun, pembangunan pabrik terintegrasi ini bertujuan supaya lebih efisien dalam produksi karena dari bahan baku hingga distribusi berada dalam satu kompleks.

"Dikerjakan sama anak perusahaan Kalbe semua, ada yang di pabrik, bahan baku, dan distribusi," katanya.

Sebelumnya, Kalbe Farma baru saja meresmikan pabrik biosimilar dengan kapasitas 10 juta dosis. Produk dari pabrik ini diproyeksikan akan mulai diedarkan pada akhir 2018.

Untuk tahap awal produksi akan diarahkan untuk dua jenis produk bioteknologi, yakni hormon perangsang sel darah merah serta sel darah putih. Secara nasional, kebutuhan kedua jenis obat ini diperkirakan mencapai 2 juta dosis. Pembangunan biosimilar ini menyerap investasi senilai Rp500 miliar.

Sebelumnya, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan industri farmasi dan bahan farmasi merupakan salah satu sektor andalan yang diprioritaskan dalam pengembangannya.

“Karena [industri farmasi] berperan besar sebagai penggerak utama perekonomian nasional di masa yang akan datang,” ujarnya dalam keterangan resmi, Selasa (27/2/2018).

Menurut Airlangga, pemerintah telah mencanangkan program percepatan pengembangan sektor industri strategis tersebut melalui penerbitan Paket Kebijakan Ekonomi XI.

Kemudian, arahan kebijakan tersebut dituangkan dalam Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 6/2016 tentang Percepatan Pengembangan Industri Farmasi dan Alat Kesehatan (Alkes) serta mewujudkan Program Nawacita pada Program Indonesia Sehat.

“Tujuan dari Inpres tersebut adalah menciptakan kemandirian industri farmasi dan alkes nasional, sehingga masyarakat memperoleh obat dengan mudah, terjangkau, dan berkesinambungan,” tuturnya.

Sebagai catatan, berdasarkan data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), nilai investasi sektor industri kimia dan farmasi yang bersumber dari dalam negeri sepanjang 2017 adalah sebesar Rp13,73 triliun.

 

Tag : kalbe farma
Editor : Ratna Ariyanti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top