Kawasan Industri Morowali Hasilkan Baja Nirkarat Hingga 3 Juta Ton

Produksi baja nirkarat di Kawasan Industri Morowali bakal meningkat menjadi 3 juta ton per tahun pada 2018.
Annisa Sulistyo Rini | 08 Maret 2018 17:31 WIB
Presiden Joko Widodo menandatangani prasasti disaksikan Menteri Perindustrian Saleh Husin, Chairman SMI Halim Mina, Investor SMI Mr. Xiang Guangda, Gubernur Sulawesi Tengah Longki Aladin Djanggola, dan Bupati Morowali Anwar Hafiddan pada acara peresmian Smelter Nikel PT. Sulawesi Mining Investment di Kecamatan Bahodopi, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, 29 Mei 2015./http:/ - www.kemenperin.go.id

Bisnis.com, JAKARTA—Produksi baja nirkarat di Kawasan Industri Morowali bakal meningkat menjadi 3 juta ton per tahun pada 2018.

Hamid Mina, Managing Director PT Indonesia Morowali Industrial Park, mengatakan saat ini terdapat dua perusahaan yang telah memproduksi baja nirkarat di kawasan Morowali, yaitu PT Indonesia Guang Ching Nickel and Stainless Steel Industry (GCNS) dan PT Indonesia Tsingshan Stainless Steel (ITSS) dengan kapasitas produksi masing-masing sebesar 1 juta ton per tahun. 

"April mestinya PT Sulawesi Mining Investment [SMI] dapat produksi 1 juta ton, jadi totalnya 3 juta ton," ujarnya kepada Bisnis, Kamis (8/3/2018).

Hamid menjelaskan saat ini SMI belum memproduksi baja nirkarat karena produksi perusahaan baru sampai ke produk nickel pig iron (NPI). Pada April nanti, pabrik tersebut akan melanjutkan produksi hingga produk baja nirkarat dengan kapasitas 1 juta ton per tahun.

Selain penambahan produksi baja nirkarat, kawasan industri yang berada di Bahodopi, Morowali, Sulawesi Tengah ini juga mulai memproduksi baja karbon. Hamid menyebutkan saat ini PT Tsingshan Steel Indonesia sudah berproduksi. Pabrik ini berkapasitas 500.000 ton per tahun yang hasilnya bisa berupa low Ni dan baja karbon sesuai dengan permintaan pasar.

"Sementara ini sedang memproduksi carbon steel sama seperti Krakatau Steel," katanya.

Kawasan Industri Morowali hingga saat ini telah menyerap investasi sekitar US$6 miliar yang berasal dari Tsingshan dan Bintang Delapan Group serta pembangunan pabrik baja karbon Dexin Steel Indonesia yang menelan investasi sekitar US$1,1 miliar.

Pembangunan pabrik baja tersebut telah dimulai sejak Januari 2018 dan ditargetkan berlangsung 24 bulan sejak pembangunan dimulai, sehingga bakal berproduksi sekitar 2020. Produk baja karbon yang diharapkan akan diproduksi antara lain billet, wire rod, slab, dan bar dengan kapasitas masing-masing sesuai permintaan pasar.

"Rencananya mulai produksi pada Januari 2020," ujar Hamid.

Sebagai informasi, Dexin Steel Indonesia merupakan perusahaan patungan antara produsen baja asal China Delong Holdings, melalui anak usahanya Delong Steel Singapore Projects, bersama PT Indonesia Morowali Industrial Park dan Shanghai Decent Investment Group.

Total investasi pada tahap awal disebutkan sekitar US$950 juta. Sebesar 70% dari dana tersebut berasal dari pendanaan bank. Delong Steel Singapore Projects akan memiliki saham sebesar 45%, Shanghai Decent sebesar 43%, dan IMIP sebesar 12%.

Hingga Februari 2018, Kawasan Industri Morowali telah menyerap 19.644 tenaga lokal dan 1.748 tenaga asing. Lahan kawasan ini mencapai 2.000 hektare dan akan dikembangkan menjadi 3.000 hektare.

Lebih jauh, untuk pengembangan Kawasan Industri Morowali, pengelola masih fokus dengan proyek yang sedang berjalan saat ini. Kawasan ini telah memiliki Wisma IMIP dan bukan hotel karena tidak dikomersialkan. Selain itu, pengelola juga tengah membangun bandara khusus dengan panjang landas pacu atau runway sepanjang 2.000 meter, sehingga mampu didarati oleh pesawat jenis cessna caravan, ATR 72, dan Boeing 737. Bandara ini ditargetkan mulai bisa digunakan pada pertengahan tahun ini. 

Pemerintah saat ini tengah menargetkan produksi baja nirkarat sebesar 4 juta ton pada 2019 dan baja sebesar 10 juta ton pada 2025. Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menyatakan Kemenperin fokus menjalankan kebijakan hilirisasi industri, salah satunya di sektor logam. 

Kemenperin mencatat sejauh ini diproyeksi terdapat 32 proyek smelter logam yang tumbuh dengan perkiraan nilai investasi sebesar US$18 miliar dan penyerapan tenaga kerja langsung sebanyak 28.000 orang, yang tersebar di 22 kabupaten/kota dan 11 provinsi.

Pembangunan pabrik smelter di dalam negeri dinilai berjalan cukup baik, terutama yang berbasis logam. Apalagi, Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan industri smelter berbasis logam karena termasuk dari 10 besar negara di dunia dengan cadangan bauksit, nikel, dan tembaga yang melimpah.

Pengembangan industri berbasis mineral logam khususnya pengolahan bahan baku bijih nikel fokus di kawasan timur Indonesia, seperti di Kawasan Industri Morowali, Sulawesi Tengah, Kawasan Industri Bantaeng, Sulawesi Selatan dan Kawasan Industri Konawe, Sulawesi Tenggara.

Tag : morowali
Editor : Ratna Ariyanti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top