Minta Tak Larang Impor Minyak Sawit, Ini Ajakan Petani Sawit Kepada Uni Eropa

Petani kelapa sawit mengajak Uni Eropa untuk bersama-sama petani dalam mengonservasi hutan dan biodiversiti, bukan melarang impor minyak sawit. Petani bahkan mengundang blok mata uang tunggal itu untuk melihat pengelolaan perkebunan sawit di Indonesia.
Sri Mas Sari | 08 Maret 2018 22:32 WIB
Ilustrasi - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA—Petani kelapa sawit mengajak Uni Eropa untuk bersama-sama petani dalam mengonservasi hutan dan biodiversiti, bukan melarang impor minyak sawit. Petani bahkan mengundang blok mata uang tunggal itu untuk melihat pengelolaan perkebunan sawit di Indonesia.

Ajakan itu disampaikan Serikat Petani Kelapa Sawit (SPKS) dalam surat terbuka kepada Komisi Eropa dan Parlemen Eropa. Surat itu disampaikan untuk meluapkan kekecewaan petani terhadap pergerakan, kebijakan, dan kampanye Eropa melawan sawit.

Seperti diketahui, rencana melarang minyak sawit pertama kali diinisiasi dalam resolusi Parlemen Eropa April 2017 dan the European Commission's Renewable Energy Directive yang mendepak CPO dari bahan bakar transportasi mulai 2021.

"Petani SPKS mengundang Anda semua untuk datang dan melihat, bagaimana kami dapat mengonservasi lingkungan sambil terus melanjutkan hidup. Hutan penting bagi kehidupan manusia, tapi orang-orang yang memelihara hutan dan biodiversitilah yang dapat memetik manfaatnya secara positif," demikian isi surat terbuka tertanggal 7 Maret 2018 itu.

Ada tiga poin penting yang disampaikan SPKS dalam surat berbahasa Inggris tersebut.

Pertama, kehidupan dan masa depan petani dan anak-anak mereka selama ini tinggal dalam akses terbuka pasar global, termasuk pasar Eropa. SPKS berharap Eropa mengakui CPO sebagai bagian komoditas perdagangan dunia. Bahkan, volatilitas harga CPO di pasar berdampak besar pada kehidupan petani.

"Bagaimana kami harus memperjuangkan hidup jika kebijakan Anda diadopsi oleh negara-negara Uni Eropa?"

Kedua, SPKS mengapresiasi Uni Eropa mengakui tanah dan hutan Indonesia, serta biodiversiti di dalamnya. Namun, mereka meminta pengertian Eropa bahwa petani pun berada di bawah tekanan yang sama untuk memelihara lingkungan, hutan, dan biodiversiti untuk masa depan populasi di Indonesia.

Ketiga, SPKS berkolaborasi dengan beragam kalangan, termasuk perusahaan, konsultan keberlanjutan, dan lembaga swadaya masyarakat, baik di forum dalam negeri maupun internasional, untuk ketertelusuran dan keberlanjutan.

Hal itu menunjukkan persepsi minyak sawit di Eropa tidak selalu negatif dan terbukti pula ada organisasi yang bekerja mendukung dan mengakui CPO. SPKS pun memiliki misi membangun kesadaran dan memperbaiki manajemen lingkungan dan perkebunan petani berkelanjutan; penguatan organisasi, memperbaiki kualitas hidup petani melalui good agricultural practices (GAP) dan inovasi teknologi; serta meningkatkan kesadaran publik pada taraf lokal, nasional, dan internasional untuk menyokong praktik terbaik petani.

"Kami mencari dukungan Anda untuk membuat proses perubahan ini lebih cepat, bekerja bergandengan tangan dengan pemain lainnya, khususnya importir dan pemerintah lokal. Jika Uni Eropa tidak membuka pasar bagi produk minyak sawit petani, seluruh upaya ini akan sia-sia."

Tag : minyak sawit
Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top