Kebijakan Genap-Ganjil Tol Japek, Adakah Kongkalikong?

Meskipun rencana kebijakan pembatasan kendaraan pribadi di tol Jakarta-Cikampek (Japek) lewat sistem genap-ganjil menuai protes dan kritik dari publik, pemerintah tetap bersiteguh menerapkannya.
Chamdan Purwoko | 10 Maret 2018 13:23 WIB

Meskipun rencana kebijakan pembatasan kendaraan pribadi di tol Jakarta-Cikampek (Japek) lewat sistem genap-ganjil menuai protes dan kritik dari publik, pemerintah tetap bersiteguh menerapkannya.

Padahal, masih ada sejumlah tanda tanya dan ‘keganjilan’ yang belum terjawab. Keganjilan dan kejanggalan yang tak terjawab itu pun memicu pertanyaan: adakah tujuan lain daripada yang pernah disampaikan pemerintah? Adakah kongkalikong di dalam kebijakan tersebut?

Seperti sudah disosialisasikan pemerintah, terhitung mulai 12 Maret 2018 Kementerian Perhubungan akan membatasi kendaraan pribadi (golongan 1) lewat kebijakan pengaturan pelat nopol genap-ganjil yang berlaku di tol Japek ruas Bekasi-Cawang sejak pukul 06.00 hingga 09.00.

Pemerintah berargumentasi, kebijakan tersebut bertujuan untuk mengurangi kemacetan lalu lintas sehubungan dengan adanya proyek jalan tol layang (elevate) dan light rail transit (LRT) yang dibangun di tol Japek.

Argumentasi ini justru menimbulkan tanda tanya besar karena kebijakan genap-ganjil diterapkan di jalan tol Japek ruas Bekasi-Cawang, yang lalu lintasnya tergolong ramai lancar. Kendaraan masih bisa melaju dengan kecepatan rata-rata di atas 40-50 km per jam.

Jika kebijakan itu benar-benar bertujuan untuk mengurangi kemacaten di tol Japek, semestinya sistem genap-ganjil diterapkan di ruas Bekasi-Cikampek, yang setiap waktu selalu penuh sesak.

Itulah mengapa kemudian muncul praduga bahwa secara sembunyi-sembunyi (kongkalikong) kebijakan ini memiliki tujuan lain yakni membantu mendongkrak pendapatan dan okupasi tol Becakayu yang saat ini sangat sepi?
Dugaan tersebut wajar saja. Sebab, dengan adanya kebijakan genap-ganjil, sekitar 45% kendaraan dari Bekasi yang biasa menggunakan tol Japek menuju Jakarta di pagi hari, kemungkinan besar akan bergeser ke Becakayu.

Naik kereta komuter, tampaknya bukan pilihan karena transportasi umum yang satu ini selalu penuh, hingga mencari tempat nyaman untuk kaki pun susah.
Apabila mengendarai mobil pribadi tetap menjadi pilihan warga Bekasi, maka sudah pasti okupasi dan pendapatan tol Becakayu langsung naik signifikan.

7 MOBIL PER MENIT

Soal tol Becakayu yang sepi, Anda bisa buktikan sendiri. Jika Anda belum pernah berkendara di jalan tol Becakayu, cobalah sekali-kali. Hampir pasti, Anda akan merasa 'kesepian'. Sebab, di sepanjang perjalanan, baik di depan maupun di belakang mobil Anda, hanya akan terlihat satu atau dua mobil. Di malam hari, situasinya lebih 'mencekam’. Kemungkinan besar Anda akan benar-benar berkendara sendirian tanpa bertemu mobil lain.

Kondisi lengang di Tol Becakayu ini terjadi sepanjang waktu dari pagi hingga malam di kedua arah, Bekasi-Cawang maupun Cawang-Bekasi.

Menurut manajemen PT Kresna Kusuma Dyandra Marga (KKDM) selaku pengelola, saat ini okupasi rata-rata tol Becakayu hanya sekitar 11.000 unit mobil per hari atau 458 unit per jam atau tujuh unit per menit. Sepi banget!
Becakayu saat ini merupakan tol paling sepi dibandingkan dengan jalan tol manapun. Situasi sebaliknya terjadi di jalan tol Japek yang mengarah dari Jakarta ke Cikampek. Kemacetan di ruas tol ini bisa mengular berkilo-kilo meter.

Penyebabnya, selain okupasinya memang sudah terlalu padat, saat ini sedang ada proyek pembangunan jalan layang kereta api ringan (LRT) di bibir tol, sehingga terjadi penyempitan jalan.
Selain itu, juga ada proyek jalan tol layang yang dibangun persis di tengah-tengah jalan tol Japek. Wajar saja jika selalu macet parah, terutama menjelang pintu keluar tol Bekasi Barat hingga Cikarang.

500.000 UNIT PER HARI
Menurut Dewan Transportasi Kota Bekasi, jumlah pergerakan kendaraan pribadi dari Bekasi menuju Jakarta saban hari tak kurang dari setengah juta unit.

Dengan pergerakan kendaraan dari Bekasi ke Jakarta yang begitu kolosal, mengapa pengendara mobil pribadi lebih memilih menggunakan tol Japek yang padat merayap ketimbang tol Becakayu yang benar-benar bebas hambatan? Sangat mungkin, alasannya karena tarif Rp14.000 dirasa terlalu mahal.

Ya… terlalu mahal karena sampai sekarang baru ruas Jakasampurna (Bekasi) hingga Kebon Nanas (Cawang) saja yang dioperasikan. Untuk ruas Cawang-Kampung Melayu saat ini masih dalam proses pengerjaan.

Lantas seberala mahalkah tarif tol Becakayu? Mari kita ukur.
Cobalah Anda masuk tol Becakayu via Kebon Nanas, Cawang. Saat men-tap kartu elektronik di pintu keluar, lihatlah odometer di dasbor. Jarak tempuhnya tak bakal lebih dari 7,5 km.

Itu berarti, ongkos per kilometer di tol berjarak pendek ini mencapai Rp1.866. Angka ini jauh lebih mahal dibandingkan tarif yang ditetapkan pemerintah sekitar Rp1.100 per kilometer. Itulah kenapa pengguna mobil enggan memanfaatkan tol baru ini.

Dengan pengoperasikan tol Becakayu yang baru sepertiga dari total yang akan dioperasikan, semestinya tarif yang dikenakan pun juga sepertiganya. Saat ini, pengguna tol Becakayu dipaksa membayar tarif penuh Rp14.000 padahal total panjang jalan yang tersedia sekarang hanya 7,5 km. Tidak fair!

Semakin tidak fair ketika pemerintah menerapkan kebijakan genap-ganjil--- yang sesungguhnya dapat dimaknai sebagai bentuk ‘pemaksaan’----agar kendaraan pribadi beralih ke tol Becakayu yang tarifnya sangat mahal itu. Kendaraan dari Bekasi ke Jakarta memang tak harus menggunakan tol Becakayu. Ada jalan alternatif lain yakni arteri Kalimalang.

Namun, jalan non tol ini tampaknya tidak akan menjadi pilihan prioritas bagi warga Bekasi karena saban hari selalu dipadati sepeda motor dan mobil. Apalagi, di sepanjang jalan alternatif ini terdapat proyek perbaikan dan pelebaran jalan yang selalu memicu kemacetan di beberapa titik.

Menggunakan tol Becakayu tampaknya merupakan pilihan terbaik, meskipun dipastikan akan terjadi kemacetan saat keluar di pintu Kebon Nanas, Cawang.

Dugaan adanya ‘kongkalikong’ menjadi kian kental jika melihat durasi pemberlakuan kebijakan genap-ganjil yang akan berakhir pada 2019, di mana pada tahun yang sama tol Becakayu ditargetkan beroperasi penuh dengan panjang 23,8 km.

Saat tol Becakayu beroperasi penuh, hampir dipastikan okupasinya akan optimal karena tarif 14.000 menjadi cukup rasional.

Bagaimanapun manusia adalah mahluk yang rasional dan selalu berpikir ekonomis.

Artinya, apabila tarif jalan tol Becakayu lebih rasional yaknj sekitar Rp5.000-6.000 sesuai dengan panjang jalan yang dioperasikan, hampir pasti mobil pribadi yang biasa menggunakan tol Japek dari Bekasi menuju Jakarta maupun sebaliknya, akan ‘secara sukarela’ bergeser ke Becakayu yang jauh lebih lancar.

Jalan tol dapat dipersamakan dengan sungai. Air akan mengalir ke area yang lebih rendah dan lebih lancar arusnya.
Begitu pun jalan tol. Kendaraan akan mengalir ke jalan tol yang rendah tarifnya (rasional) dan lebih lancar arus lalu lintasnya, tanpa perlu dibuat aturan yang bersifat ‘memaksa’.

Bagaimanapun, ‘memaksa’ kendaraan bergeser dari tol Japek ke Becakayu yang tarifnya tidak rasional tentulah bukan langkah bijak.

Pertanyaannya, maukah pengelola tol Becakakyu merasionalkan tarif untuk sementara waktu sesuai dengan panjang jalan yang dioperasikan?

Kesediaan merasionalkan tarif tol Becakayu akan menyelesaikan beberapa hal. Okupasi tol Becakayu secara otomatis akan naik sehingga pendapatan diharapkan juga ikut meningkat.

Kepadatan di tol Japek tentu akan berkurang dan arus lalu lintas menjadi lebih lancar, sehingga ongkos logistik bisa turun.
Menteri Perhubungan juga tak perlu repot-repot menerapkan kebijakan genap-ganjil di jalan tol yang menuai banyak kritik.
Dan, satu hal yang paling penting, kesediaan pengelola tol Becakayu merasionalkan tarif tol akan memberikan rasa adil bagi publik.

Tag : tol becakayu, ganjil genap
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top