KEK Perguruan Tinggi Dinilai Tak Realistis

Bisnis.com, JAKARTA Rencana pemerintah mengembangkan kawasan ekonomi khusus atau KEK perguruan tinggi ternyata dinilai tidak realistis dengan kondisi sekarang.
Ipak Ayu H Nurcaya | 11 Maret 2018 17:14 WIB
Dosen - Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA — Rencana pemerintah mengembangkan kawasan ekonomi khusus atau KEK perguruan tinggi ternyata dinilai tidak realistis dengan kondisi sekarang.

Ekonom Bank Dunia Ririn Salwa Purnamasari mengatakan, pemerintah baiknya kembali meninjau ulang porsi kebutuhan pendidikan yang tepat bagi sumber daya manusia masa depan.

Apalagi, persoalan pendidikan vokasi belum tuntas diselesaikan oleh para pemangku kebijakan. Di sisi lain, perubahan era ekonomi menuntut kesiapan pekerja masyarakat Indonesia dengan cepat.

"Mending lihat dulu, sekarang kebutuhan pendidikan negara kita yang seperti apa sesuaikan dengan kebutuhan industri yang ada," katanya kepada Bisnis, belum lama ini.

Ririn menilai, pemerintah Indonesia baiknya fokus menyediakan sejumlah pendidikan dan pelatihan kerja guna meningkatkan kompetensi kerja. Di samping mendorong pendidikan vokasi yang lebih optimal.

Dengan demikian, masyarakat akan berkembang dengan pendidikan yang sesuai dan industri mendapat pasokan yang semakin mumpuni.

Jika kondisi masyarakat dan pendidikan dalam negeri sudah membaik, rencana-rencana selanjutnya mengundang banyak universitas asing dapat dijalankan.

Hal senada diutarakan ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira Adhinegara yang menilai Indonesia kurang pas untuk membuka perguruan tinggi asing apalagi tujuannya untuk menciptakan sistem pendidikan yang terjangkau bagi kelas bawah.

Di beberapa negara seprti Malaysia dan China yang membuka perguruan tinggi asing akhirnya lebih dinikmati masyarakat menengah ke atas. Sementara itu, masalah utama sekarang adalah akses pendidikan yg berkualitas terhadap penduduk miskin.

"Lebih dari 60% struktur tenaga kerja kita adalah lulusan SMP. Mereka tidak butuh pendidikan mahal, mereka lebih butuh sekolah vokasi atau kejuruan," ujarnya.

Menurutnya, sekarang sudah banyak sekolah vokasi tetapi kurikulumnya belum sesuau dengan kebutuhan industri. Begitu juga pemerintah sudah punya program pemagangan.

"Harusnya fokus saja sempurnakan program-program vokasi dan pemagangan bukan perguruan tinggi asing," katanya.

Rencananya, pemerintah memang akan membuka Kawasan Ekonomi Khusus atau KEK Perguruan Tinggi yang akan berdiri di Tangerang dengan lahan 30 hektare milik Kementerian Pertanian.

Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir mengatakan, sesuai dengan UU Nomor 39/2009 tentang KEK, pemerintah akan melakukan sejumlah persiapan yang disyaratkan dalam pembentukan KEK agar mendapat insentif.

Dirinya mengemukakan pemilihan lokasi Tangerang karena diyakini wilayah strategis dan memiliki potensi yang tinggi.

"Kalau untuk universitas tidak mungkin di tengah hutan. Pendidikan tinggi harus di tengah kota, tapi tidak mungkin di Jakarta karena tidak ada lahan. Jadi kita harus cari tempat yang memungkinkan bisa dijangkau dari Jakarta, atau bahkan luar negeri," katanya.

Nasir mengatakan KEK Perguran Tinggi ini akan berfokus memudahkan universitas asing yang akan membuka cabang di Indonesia. Sejumlah insentif pun akan dirumuskan terkait perizinan, tenaga kerja, dan perpajakan.

Pihaknya pun tengah menyiapakan laporan kepada presiden untuk selanjutnya melakukan pembentukan KEK sesuai arahan.

Nasir menceritakan pemerintah sudah melakukan penjajakan dengan sejumlah perguruan tinggi yakni dari Inggris ada Imperial College London, Cambridge, London School of Economics, dan Monash dari Australia.

"Australia yang sudah menghubungi, nanti kita komunikasikan lebih lanjut, apa yang mereka butuhkan, bagaimana membangun Perguruan Tinggi di Indonesia supaya reputasi perguruan tinggi kita makin baik," ujarnya.

Nasir memastikan KEK ini akan mengutamakan perguruan tinggi asing dikarenakan bagi universitas lokal tidak membutuhkan KEK. Namun, bagi universitas lokal masuk juga akan tetap diberi kesempatan masuk dalam KEK jika berminat.

Pemerintah, lanjutnya, sangat mempertimbangkan perguruan tinggi luar negeri masuk ke Indonesia guna mendorong perguruan tinggi Indonesia lebih berkualitas lagi.

Tag : KEK perguruan tinggi
Editor : Achmad Aris

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top