Pan Brothers Minta Pemerintah Dapat Selesaikan FTA Tekstil

Vice President Director PT Pan Brothers Tbk. Anne Patricia Sutanto berharap pemerintah dapat mempercepat pembahasan perdagangan bebas dengan negara-negara tujuan ekspor, terutama dengan Uni Eropa.
Annisa Sulistyo Rini | 12 Maret 2018 20:10 WIB
Karyawan mengambil gulungan benang di salah satu pabrik tekstil yang ada di Jawa Barat. - JIBI/Rahmatullah

Bisnis.com, SOLO—Vice President Director PT Pan Brothers Tbk. Anne Patricia Sutanto berharap pemerintah dapat mempercepat pembahasan perdagangan bebas dengan negara-negara tujuan ekspor, terutama dengan Uni Eropa. 

"Kalau ada FTA, industri tekstil dan produk tekstil Indonesia bisa sejajar Vietnam. Pada 2008 Indonesia bisa melebihi Vietnam, sekarang Vietnam 6,7% lebih tinggi," ujarnya, Senin (12/3/2018).

Saat ini, produk TPT asal Vietnam sudah dibebaskan dari bea masuk ke wilayah Eropa, sedangkan produk Indonesia masih dikenakan sebesar 5% hingga 20%. Selain itu, Anne juga menyampaikan implementasi kebijakan pemerintah, seperti insentif perpajakan bagi industri yang melakukan pengembangan atau perluasan dinilai belum terasa. Dari sisi tenaga kerja, pendidikan vokasi perlu diperkuat karena sektor ini menyerap banyak karyawan.

"Untuk tekstil hulu, harga gas harus kompetitif dan untuk kami kualitas dan cost listrik PLN mohon menjadi perhatian," katanya.

Kementerian Perindustrian memperkirakan ekspor industri tekstil dan produk tekstil (TPT) naik hingga tiga kali lipat apabila perjanjian perdagangan bebas (free trade agreement/FTA) dengan Eropa dan Amerika Serikat dapat diselesaikan. 

Achmad Sigit Dwiwahjono, Dirjen Industri Kimia, Tekstil, dan Aneka (IKTA) Kemenperin, mengatakan hingga kini akses pasar yang kurang masih menjadi kendala industri TPT karena belum ada FTA dengan negara-negara Eropa dan Amerika Serikat. Sementara itu, produk TPT negara tetangga, seperti Vietnam bisa masuk dengan bea masuk 0%.

"Kalau FTA bisa diselesaikan secepatnya, ekspor bisa naik 3 kali lipat. Saat ini ekspor TPT Indonesia sekitar US$12 miliar," ujarnya di Solo, Senin (12/3/2018).

 

Tag : tekstil
Editor : Ratna Ariyanti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top