Sanksi BUMN Karya, Menteri PUPR Kirimkan Enam Rekomendasi Ini Ke Menteri BUMN

Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono telah melayangkan surat rekomendasi kepada Menteri BUMN Rini Soemarno terkait sejumlah kecelakaan konstruksi yang terjadi di area pengerjaan BUMN Karya.
Irene Agustine | 13 Maret 2018 06:39 WIB
Pekerja menyelesaikan pembangunan jalan tol Bekasi-Cawang-Kampung-Melayu (Becakayu) yang dikerjakan oleh PT Waskita Karya Tbk. (Persero) di Jakarta, Senin (17/4). - JIBI/Abdullah Azzam
Bisnis.com, JAKARTA -- Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono telah melayangkan surat rekomendasi kepada Menteri BUMN Rini Soemarno terkait sejumlah kecelakaan konstruksi yang terjadi di area pengerjaan BUMN Karya.
 
Dalam rekomendasi tersebut, pihaknya mengeluarkan rekomendasi penjatuhan sanksi kepada empat BUMN karya atas serangkaian kecelakaan konstruksi yang terjadi belakangan ini. BUMN karya tersebut yakni PT Waskita Karya (Persero) tbk, PT Wijaya Karya (Persero) tbk, PT Hutama Karya (Persero) dan PT Adhi Karya (Persero) tbk, yang diketahui menjadi kontraktor dalam sejumlah kecelakaan konstruksi sejak Agustus tahun lalu.
 
Menteri PUPR Basuki Hadimuljono mengatakan sedikitnya terdapat enam butir rekomendasi kepada Menteri BUMN untuk ditindaklanjuti berdasarkan hasil investigasi Komite Keselamatan Konstruksi (KKK) sejauh ini.
 
"Surat rekomendasinya dikirim hari ini, akan ditindaklanjuti rekomendasinya oleh Menteri BUMN bagaimana keputusannya," katanya, Senin malam (12/3/2018).
 
Pertama, rekomendasi mengenai langkah-langkah yang akan diambil Kementerian BUMN atas hasil audit KKK, baik dari sejumlah investigasi kecelakaan proyek maupun pascapenghentian pekerjaan konstruksi layang.
 
Butir kedua sampai kelima yakni rekomendasi pemberian sanksi kepada WSKT, WIKA, ADHI dan HK masing-masing sesuai dengan dampak yang ditimbulkan.
 
Sejauh ini, WSKT menjadi kontraktor terbanyak yang terjadi kecelakaan konstruksi sejak Agustus lalu sebanyak 7 proyek. Sementara itu, WIKA terdapat dua proyek, ADHI dan HK masing-masing terdapat satu proyek.
 
Sejumlah proyek WSKT yakni LRT Palembang (4 Agustus 2017), tol Bogor--Ciawi--Sukabumi (22 September 2017), tol Pasuruan--Probolinggo (29 Oktober 2017), tol Layang Jakarta--Cikampek II (16 November 2017), Tol Pemalang--Batang (30 Desember 2018), Tembok Jalan Perimeter Proyek Kereta Bandara (5 Februari 2017) dan terakhir, tol Becakayu (20 Februari 2018).
 
Sementara itu, dua proyek Wika yang terjadi kecelakaan konstruksi, yakni tol Bogor Outer Ring Road (26 Oktober 2017) dan LRT Velodrome--Kelapa Gading  (22 Januari 2018).
 
Sementara itu, proyek ADHI yang mengalami kecelakaan konstruksi yakni LRT Jakarta (15 November 2018). Adapun, proyek HK yang mengalami kecelakaan konstruksi yaitu double double track kereta Jakarta  (4 Februari 2018).
 
Basuki mengatakan rekomendasi yang diberikan pihaknya berdasarkan beban kecelakaan konstruksi tersebut. Untuk WSKT, dia menyebut bahwa rekomendasi sanksi yang diberikan yakni evaluasi sistem manajemen dan direksi oleh Menteri BUMN.
 
Sementara itu, ketiga kontraktor lainnya tidak sampai diberikan rekomendasi evaluasi sistem manajemen dan direksi. Namun, Basoeki tidak merinci detail sanksi tersebut.
 
"Kalau waskita kan sudah tujuh. HK ada yang meninggal, Wijaya dan Adhi kecelakaan saja. Masing-masing punya bobot sendiri. Kalau yang HK tidak sampai pengurus (direksi), mengganti di lapangan aja," ujarnya.
 
Terakhir, Basuki mengatakan pihaknya juga merekomendasikan kepada Menteri BUMN agar dibentuk unit khusus yang bertanggung jawab pada pengawasan quality, safety, health and environment (QSHE). Pembentukan unit ini diharapkan bisa jadi mekanisme pengawasan pada proyek-proyek selanjutnya
 
"Apakah bentuknya direksi keselamatan, atau apa itu terserah Menteri BUMN. Yang kami rekomendasikan adalah untuk membentuk unit khusus itu," jelasnya.
Tag : kecelakaan konstruksi
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top