Pemerintah & Pebisnis Logistik Belum Maksimalkan Teknologi

Pemerintah dan pelaku usaha Indonesia belum memanfaatkan secara maksimal perkembangan teknologi dalam memajukan bisnis logistik.
Jaffry Prabu Prakoso | 18 Maret 2018 21:35 WIB
Ilustrasi kegiatan logistik - Reuters/Jason Lee

Bisnis.com, JAKARTA – Pemerintah dan pelaku usaha Indonesia belum memanfaatkan secara maksimal perkembangan teknologi dalam memajukan bisnis logistik.

Ketua Umum Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) Zaldy Ilham Masita mengatakan keterbatasan infrastruktur dan sumber daya manusia menciptakan ketidakpastian dalam revolusi industri 4.0 atau generasi keempat.

Padahal pola industri terkini sudah mutlak ada walaupun mendisrupsi bisnis logistik. Meski begitu peluang ini bisa dimanfaatkan untuk menurunkan biaya logistik yang saat ini mencapai 24% dari produk domestik bruto.

“Disrupsi logistik tidak bisa dihindari dengan perkembangan ekonomi digital sekarang ini,” katanya kepada Bisnis pada Minggu (18/3/2018).

Dampak revolusi industri terhadap logistik ditandai dengan penggunaan intenet secara umum. Di dalamnya mencakupi penggunaan Internet of Thing (Iot), big data, cloud environment, Radio Frequency Identification (RFID) system, dan cyber physical system.

Isi dalam penggunaan Internet inilah yang menurut Zaldy masih belum digunakan secara penuh di Tanah Air.

Indonesia sendiri baru bisa menerapkan komputasi awan (Cloud Environment) dan Internet of Things (IoT) karena tidak melanggar dari sisi peraturan.

Cloud environment memiliki keuntungan pengaturannya yang mudah dan tidak perlu membeli perangkat serta tempat penyimpanan untuk perangkat.

Sementara IoT berfungsi sebagai sensor yang dipasang untuk memantau sebuah tempat atau barang melalui Internet. Tentu ini akan mempermudah pekerjaan karena bisa dicek secara langsung dari mana saja.

Tag : logistik
Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top