2019, China Keluarkan Lisensi 5 G

Pemerintah China diperkirakan mengeluarkan lisensi 5G untuk sejumlah operator telekomunikasi pada semester kedua 2019 setelah negara tersebut berupaya mengomersialkan teknologi komunikasi bergerak generasi terbaru itu.
Newswire | 22 Maret 2018 06:27 WIB
Pemerintah China diperkirakan mengeluarkan lisensi 5G untuk sejumlah operator telekomunikasi pada semester kedua 2019. - Istimewa

Bisnis.com, BEIJING - Pemerintah China diperkirakan mengeluarkan lisensi 5G untuk sejumlah operator telekomunikasi pada semester kedua 2019 setelah negara tersebut berupaya mengomersialkan teknologi komunikasi bergerak generasi terbaru itu.

"Kami akan menjadi kelompok negara pertama yang mengeluarkan lisensi 5G di dunia. Kemungkinan besar pada semester kedua 2019 hingga semester pertama 2020," kata Wang Zhiqin, selaku Wakil Direktur Akademi Teknologi Informasi dan Komunikasi China (CAICT), lembaga kajian yang berafiliasi dengan Kementerian Industri dan Teknologi Informasi China (MIIT), Kamis (22/3/2018).

Beberapa waktu yang lalu, China selalu berada di belakang beberapa negara lain yang lebih dulu mengeluarkan lisensi 4G dan 3G. Bahkan, China tertinggal tiga hingga delapan tahun dari beberapa negara pionir teknologi informasi dan komunikasi.

"China kemungkinan juga akan mendistribusikan pita frekuensi pada semester kedua tahun ini sehingga akan mempercepat pembangunan jaringan 5G," kata Wang yang juga Kepala Tim Promosi IMT2020 (5G) yang didirikan di bawah MIIT untuk mempercepat pebangunan teknologi informasi super cepat di daratan Tiongkok itu seperti ditulis China Daily.

Sebelumnya, perusahaan telekomunikasi ZTE menginvestasikan dananya senilai 20 miliar RMB (Rp42 triliun) untuk produk teknologi berbasis 5G di Nanjing, Provinsi Jiangsu.

"Teknologi 5G lebih cepat ratusan kali daripada 4G. Teknologi ini merupakan industri komunikasi 'mobile' masa depan," kata Wakil Direktur Eksekutif ZTE, Pang Shengqing.

Menurut dia, perusahaannya memiliki lebih dari 20 mitra kerja teknologi 5G di seluruh dunia.

"Proyek ini diharapkan bisa menghasilkan nilai produksi 40 miliar RMB (Rp84 triliun) setelah beroperasi pada 2022," kata Pang.

Sumber : Antara

Tag : china
Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top