EKSPOR RUMPUT LAUT KE AS: Kembali Masuk Daftar Produk Organik, Simak Paparan Kemendag

Pemerintah Amerika Serikat akhirnya tetap mempertahankan produk agar-agar dan karagenan dari olahan dari rumput laut RI dan dimasukan kembali dalam daftar produk bahan organik di negara tersebut.
Rayful Mudassir | 08 April 2018 21:27 WIB
Petani rumput laut memeriksa tanaman rumput laut di Pantai Ujungnge, Bone, Sulawesi Selatan, Selasa (31/10). - ANTARA/Yusran Uccang

Bisnis.com, JAKARTA – Pemerintah Amerika Serikat akhirnya tetap mempertahankan produk agar-agar dan karagenan dari olahan dari rumput laut RI dan dimasukan kembali dalam daftar produk organik di negara tersebut.

Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Oke Nurwan mengatakan keputusan yang dikeluarkan oleh United State Departmen of Agriculture Departemen Pertanian Amerika Serika (USDA) akibat mempertimbangkan bahwa hingga kini masih diperlukan bahan baku rumput laut untuk proses produk olahan hasil pertanian.

“Keputusan itu karena tidak tersedianya alternatif pengganti yang sepenuhnya alami,” kata Oke saat dikonfirmasi Bisnis.

Seperti idketahuim Indonesia segera berkonsolidasi dengan China setelah Amerika Serikat akhirnya tetap mempertahankan agar-agar dan karaginan dalam daftar bahan pangan organik.

Ketua Umum Asosiasi Rumput Laut Indonesia (ARLI) Safari Aziz mengemukakan negara-negara eksportir perlu menyusun strategi baru untuk memulihkan kepercayaan pasar AS yang sempat runtuh sejak ide mencoret rumput laut dari daftar pangan organik dikemukakan oleh sebuah LSM di AS pada 2013.

"Konsolidasi dulu, baru kami ambil langkah," katanya saat dihubungi, Minggu (8/4/2018).

Setelah menemui Kementerian Perdagangan untuk melaporkan keputusan AS, ARLI akan terbang ke Negeri Paman Sam. Namun, asosiasi itu akan singgah di China terlebih dahulu untuk bertemu dengan China Algae Industry Association (CAIA).

Kedua negara sesungguhnya dua pemasok utama produk rumput laut ke Negeri Paman Sam. Indonesia mengekspor rumput laut Euchema dan Gracilaria kering sebanyak 50% dari kebutuhan dunia, yang 70% di antaranya dikapalkan ke China. Berdasarkan data BPS, Indonesia mengekspor 137.859 ton rumput laut dan ganggang lainnya senilai US$113,8 juta ke berbagai negara sepanjang Januari-Oktober 2017.

China menyerap 117.795 ton senilai US$95,2 juta. Negeri Tirai Bambu lantas mengapalkan karaginan ke AS dan Eropa. Karaginan selama ini merupakan bahan penolong yang digunakan sebagai pengental untuk salad dressing, pengenyal sosis, atau penjernih bir.

Selanjutnya di AS, ARLI akan menemui Departemen Pertanian AS (USDA) dan importir produk rumput laut. Departemen Pertanian pekan ini menyatakan karaginan tetap perlu masuk ke dalam produk pertanian karena tak ada substitusi alami lainnya.

Produk substitusi potensial lain tak memadai untuk menggantikan fungsi karaginan sehingga karaginan tetap memenuhi kriteria menurut Organic Foods Production Act (OFPA) untuk dimasukkan ke dalam daftar pangan organik AS.

Sebelumnya, Indonesia berkali-kali menyampaikan pembelaan bahwa rumput laut dikembangkan di pesisir dan pulau-pulau yang perairannya bersih. Budi dayanya juga tidak menggunakan pupuk dan suplemen, serta berlangsung alamiah. Dengan demikian, komoditas itu tetap layak ditempatkan dalam daftar bahan pangan organik.

 

 

Tag : rumput laut
Editor : Linda Teti Silitonga

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top