Harga Semen Masih Tertekan

Persaingan harga semen masih terjadi di tengah kelebihan pasokan yang mencapai sekitar 40 juta ton pada tahun ini. Kendati beban produksi meningkat, kenaikan harga tidak dapat menjadi solusi karena mengancam daya saing.
Annisa Sulistyo Rini | 12 April 2018 18:52 WIB
Pekerja melakukan aktivitas bongkar muat semen di Pelabuhan Sunda Kelapa, Jakarta, Senin (4/9). - JIBI/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA—Persaingan harga semen masih terjadi di tengah kelebihan pasokan yang mencapai sekitar 40 juta ton pada tahun ini. Kendati beban produksi meningkat, kenaikan harga tidak dapat menjadi solusi karena mengancam daya saing.

Corporate Secretary Semen Indonesia Group Agung Wiharto mengatakan harga semen akan terus tertekan selama kelebihan pasokan masih terjadi. Perkembangan harga semen baru bisa dirasakan saat terjadi keseimbangan antara kebutuhan dan produksi. 

Dengan asumsi pertumbuhan konsumsi setiap tahun sebesar 10%, kelebihan pasokan masih berlangsung selama 4 tahun hingga 5 tahun mendatang. Sementara itu di sisi lain, biaya produksi, seperti harga batu bara mengalami kenaikan. 

"Nah, dalam kondisi ini tidak mudah untuk menaikkan harga karena persaingan ketat. Efisiensi ke dalam menjadi jalan," ujarnya, Kamis (12/4/2018).

Efisiensi internal yang dilakukan oleh Semen Indonesia Group antara lain perbaikan rantai pasok dan juga pemasaran. Semen Indonesia Grup juga banyak melakukan efisiensi pada sektor energi karena menjadi beban operasi yang paling besar, yaitu 25%, diikuti oleh penggunaan listrik dan transportasi.

Untuk menghemat penggunaan listrik, Semen Indonesia Grup memanfaatkan pembangkit dari limbah perseroan (waste heat recovery power generation/WHRPG) di pabrik Semen Padang sebesar 8,5 megawatt dan di pabrik Tuban sebesar 35 megawatt.

Selain itu, menurut Agung kualitas produk harus tetap terjaga agar konsumen tidak beralih ke produk lain. Dia menyatakan pihaknya sempat menaikkan harga jual pada November tahun lalu. Namun, kenaikan harga tersebut juga tidak setinggi peningkatan beban produksi untuk menjaga pangsa pasar.

"Kami lihat dulu respons masyarakat bagaimana, kalau tidak bisa diterima, kami harus berpikir ulang," jelasnya. 

Christian Kartawijaya, Direktur Utama Indocement, mengatakan tahun ini industri semen mengalami tekanan berat untuk biaya produksi seiring dengan kenaikan harga batu bara dan bahan bakar minyak industri yang disertai dengan pelemahan nilai tukar rupiah.

Dengan kondisi ini pabrikan semen seharusnya bisa menaikkan harga jual, tetapi karena kelebihan pasokan kenaikan harga jual sulit dilakukan karena harus bersaing ketat. 

"Kami telah mencoba untuk menaikkan harga 1%--2% di beberapa kota di Jawa dan terus kami evaluasi apakah kami kehilangan pangsa pasar atau tidak," ujarnya.

Agar tidak ditinggalkan konsumennya, emiten dengan kode saham INTP ini juga menyelenggarakan program hadiah langsung kepada pembeli Semen Tiga Roda saat permintaan semen masih rendah, seperti pada kuartal I/2018. Program ini dimulai pada 19 Februari 2018 hingga 31 Juli 2018.

Para pembeli semen Tiga Roda bisa mendapatkan bermacam hadiah dengan mengirimkan kode yang berada di kantong semen via SMS.

"Melalui program ini, kami menunjukkan bahwa kami siap bersaing dan berkompetisi dengan pemain semen yang makin banyak saat ini," jelasnya.

Untuk mempertahankan daya saing ke pasar, perseroan juga hanya mengaktifkan lini produksi yang paling efisien dan membangun terminal-terminal strategis baru yang berada di Palembang dan Lampung Selatan. 

Pabrik paling efisien yang baru dioperasikan adalah P14 dengan kapasitas sebesar 4,4 juta ton di Citeureup. Lini produksi ini disebutkan mampu menghemat US$7 hingga US$8 per ton.

Tag : semen
Editor : Ratna Ariyanti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top