Cegah Hambatan Dagang, Indonesia-China Dirikan Pusat Riset Rumput Laut

Indonesia dan China mendirikan pusat riset rumput laut bersama untuk menangkal terulangnya kembali hambatan dagang terhadap komoditas itu di pasar ekspor.
Sri Mas Sari | 16 April 2018 20:41 WIB
Petani rumput laut memeriksa tanaman rumput laut di Pantai Ujungnge, Bone, Sulawesi Selatan, Selasa (31/10). - ANTARA/Yusran Uccang

Bisnis.com, JAKARTA – Indonesia dan China mendirikan pusat riset rumput laut bersama untuk menangkal terulangnya kembali hambatan dagang terhadap komoditas itu di pasar ekspor.

Pusat riset itu bernama Seaweed Research and Popularization Center di Pantai Kupa, Barru, Sulawesi Selatan. Lembaga itu didirikan bersama oleh Asosiasi Rumput Laut Indonesia (ARLI), Pemprov Sulsel, China Algae Industry Association (CAIA), dan didukung oleh Ocean University of China.

"Ini dalam rangka peningkatan produktivitas, kualitas, serta antisipasi masalah-masalah yang akan timbul, seperti pada delisting agar-agar dan carrageenan [dari daftar bahan pangan organik] di masa depan," kata Ketua ARLI Safari Aziz kepada Bisnis, pekan lalu.

Kementerian Pertanian Amerika Serikat (USDA) pada 4 April membatalkan rencana penghapusan tepung karagenan rumput laut dari daftar bahan pangan organik, setelah sebelumnya juga batal mencoret agar-agar. Putusan itu berlaku mulai 29 Mei 2018 hingga 29 Mei 2023. Selanjutnya, daftar itu akan ditinjau lagi secara rutin.

Keputusan USDA untuk tetap memasukkan karagenan ke dalam produk pertanian diambil karena tak ada substitusi alami lain. Produk substitusi potensial lain tak memadai untuk menggantikan fungsi karagenan sehingga produk itu tetap memenuhi kriteria daftar pangan organik AS menurut Organic Foods Production Act (OFPA).

Sebelumnya, Indonesia berkali-kali menyampaikan pembelaan bahwa rumput laut dikembangkan di pesisir dan pulau-pulau yang perairannya bersih. Budi dayanya juga tidak menggunakan pupuk dan suplemen, serta berlangsung alamiah. Dengan demikian, komoditas itu tetap layak ditempatkan dalam daftar bahan pangan organik.

Indonesia dan China berkonsolidasi karena kedua negara sesungguhnya dua pemasok utama produk rumput laut ke Negeri Paman Sam. Indonesia mengekspor rumput laut Euchema dan Gracilaria kering sebanyak 50% dari kebutuhan dunia, yang 70% di antaranya dikapalkan ke China.

Berdasarkan data BPS, Indonesia mengekspor 137.859 ton rumput laut dan ganggang lainnya senilai US$113,8 juta ke berbagai negara sepanjang Januari-Oktober 2017.

China menyerap 117.795 ton senilai US$95,2 juta. Negeri Tirai Bambu lantas mengapalkan karaginan ke AS dan Eropa. Karagenan selama ini merupakan bahan penolong yang digunakan sebagai pengental untuk salad dressing, pengenyal sosis, atau penjernih bir.

Tag : rumput laut
Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top