LAMPAUI HET, Kemendag Klaim terus Pantau Pasar Harga

Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan Tjahya Widayanti belum memberikan tanggapan kepada Bisnis tentang kondisi harga beras hari ini. Hanya saja pekan lalu, pihaknya mengaku akan terjun ke pasar untuk melakukan pemantauan terhadap harga beras.
Rayful Mudassir | 17 April 2018 14:13 WIB
Kepala Bulog Divre I Sumut Benhur Ngkaimi ketika menunjukkan beras impor asal Thailand di Gudang Bulog Sumut Jumat (9/3/2018). Beras impor asal Thailand merupakan beras premium dengan broken atau pecahan 5% yang akan disimpan di Gudang hingga ada perintah dari pemerintah untuk didistribusikan. Bisnis - Juli Etha Ramaida Manalu

Bisnis.com, JAKARTA –  Harga beras medium masih belum menyentuh patokan Harga Eceran Tertinggi Rp9.450 per kilogram seiring dengan meningginya harga yang diterima pedagang dan kenaikan biaya produksi petani.

Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan Tjahya Widayanti belum memberikan tanggapan kepada Bisnis tentang kondisi harga beras hari ini. Hanya saja pekan lalu, pihaknya mengaku akan terjun ke pasar untuk melakukan pemantauan terhadap harga beras.

“Kami turun ke pasar dan melakukan pemantauan harga beras,” kata Tjahya.

Seperti diketahui, harga beras medium masih belum menyentuh patokan Harga Eceran Tertinggi Rp9.450 per kilogram seiring dengan meningginya harga yang diterima pedagang dan kenaikan biaya produksi petani.

Kementerian Perdagangan telah melakukan sejumlah upaya untuk menurunkan harga beras medium di pasaran. Sejumlah langkah yang dilakukan seperti menurunkan 200 staf kementerian dan disebar di sejumlah wilayah Indonesia untuk memastikan harga beras stabil.

Kemudian Kemendag juga mengutus para pejabat eselon I untuk turun langsung ke pasar-pasar dengan menjadi koordinator di beberapa wilayah. Selain itu Mendag juga telah menjanjikan bakal menggelontorkan beras impor di pasaran, hingga terakhir melibatkan bank sebagai salah satu penyalur beras ke daerah.

Ketua Umum Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi) Abdullah Mansuri mengatakan patokan beras seharga HET sesuai Peraturan Menteri Perdagangan nomor 57 Tahun 2017 tentang Penetapan Harga Eceran Tertinggi Beras, sulit dilaksanakan.

Menurutnya, intervensi pasar yang dilakukan oleh pemerintah belum dapat dianggap memenuhi kebutuhan beras di pasar. Apalagi harga beras yang diterima oleh pedagangan, tidak memungkinkan menjual seharga Rp9.450 per kilogram. Jika dipaksanakan, pedagang hanya akan menjual rugi.

Pemerintah juga ikut menggelontorkan beras dari Perum Bulog untuk menstabilkan harga. Namun kata Abdullah, jumlah beras yang tersebar masih kalah banyak dari beras yang berasal dari petani atau pengusaha beras.

“Yang beredar lebih banyak beras pasar [dari petani/pengusaha beras] dibanding beras Bulog. Tidak mungkin pedagang menjual murah karena akan menjual rugi,” kata Abdullah saat dihubungi dari Jakarta, Selasa (17/4/2018).

Menurut data Ikappi, sejumlah jenis beras masih berada di atas HET, seperti  varietas IR III Rp9.700 per kilogram, IR II Rp10.800 per kilogram, IR I Rp11.800 per kilogram, Muncul Rp12.200 per kilogram, IR 42 Rp12.600 per kilogram, dan Premium atau Centra I Rp12.600 per kilogram.

Berdasarkan data Sistem Pemantauan Pasar Kebutuhan Pokok Kemendag mencatat harga beras pada 16 April sebesar Rp10.653 per kilogram. Harga tersebut turun tipis dibanding 13 April yakni Rp10.698 per kilogram. Meski begitu harga tersebut masih berada jauh di atas HET yakni Rp9.450 per kilogram untuk wilayah Jawa, Sumatera Selatan dan Bengkulu.

Sementara di Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional mencatat harga beras kualitas medium I pada 16 April sebesar Rp11.900 per kilogram atau kurang Rp100 dibanding 13 April. Beras kualitas medium II lebih murah, yakni Rp11.700 per kilogram atau turun Rp100 dibanding 13 April.

Adapun berdasarkan data di Pasar Induk Beras Cipinang sebagai pasar grosir beras di DKI mencatat harga beras medium varietas IR-64 II sebesar Rp9.600 per kilogram. Sementara stok beras di PIBC terbilang cukup aman dengan stok akhir sebesar 43,284 ton pada 16 April.

Guru Besar Institut Pertanian Bogor Dwi Andreas Santosa mengatakan harga beras akan sulit menyentuh HET yang telah ditetapkan pemerintah. Faktor yang menyebabkan kondisi ini terjadi adalah penggunaan acuan untuk Harga Pembelian Pemerintah (HPP) untuk Gabah cukup rendah yakni Rp3.700 per kilogram gabah kering panen.

Sedangkan menurutnya, biaya produksi di tingkat petani terus mengalami peningkatan. Dwi Andreas memaparkan biaya produksi di tingkat petani mencapai Rp4.199 per kilogram untuk gabah kering panen pada akhir 2017. Sementara pada Januari 2018 dari hasil kajian di 26 kabupaten di Indonesia, pihaknya mencatat biaya produksi cukup tinggi yakni Rp4.286 per kilogram.

“Biaya produksi ini terus mengalami peningkatan. Harga HET tidak akan tercapai,” katanya.

Menurutnya pemerintah harus mengeluarkan Inpres baru meningkatkan HPP dengan minimum harga Rp4.300 per kilogram sehingga tidak merugikan petani. Bahkan HPP awal yakni Rp3.700 per kilogram nyaris tidak dapat diterapkan karena biaya produksi tinggi, sehingga menyebabkan Bulog sulit menyerap beras petani.

Selain itu pemerintah diminta mengatur kembali ketentuan HET dengan range harga beras sesuai dengan peningkatan biaya usaha tani sehingga dapat diimplementasikan hingga ke tingkat pasar. Adapun relaksasi batas atas dan batas bawah harga gabah 20% beberapa waktu lalu juga tidak efekif.

Dwi Andreas menyebutkan harga paling murah beras di pasaran hanya terjadi selama April. Sementara pada bulan berikutnya akan kembali meningkat seiring berakhirnya masa panen raya yang terjadi mulai Februari hingga April 2018. Petani akan kembali mengalami panen raya kedua pada Agustus – September, hingga kemudian memasuki masa panceklik.

 

Tag : Harga Beras
Editor : Linda Teti Silitonga

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top