Insentif Tax Holiday Proyek Kilang Minyak di Mata Bobby Gafur

Insentif pembebasan pajak (tax holiday) dan tax allowance untuk pembangunan kilang minyak berpotensi tidak menarik perhatian pihak swasta. Pasalnya, ada faktor ketidakpastian dari sisi ketersediaan bahan baku minyak mentah untuk diproses di kilang.
Surya Rianto | 17 April 2018 20:26 WIB
Dirut PT Bakrie & Brothers Tbk Bobby Gafur Umar (tengah) bersama Direktur Independen Dody Taufiq Wijaya (dari kiri), dan Direktur Amri Aswono Putro, mendengarkan pembicaraan Direktur R. A. Sri Dharmayanti, disaksikan Chief Strategic Business Development Officer & Chief Corporate Communications Indra Ginting, sebelum paparan publik perseroan, di Jakarta, Jumat (15/12). - JIBI/Endang Muchtar

Bisnis.com, JAKARTA - Insentif pembebasan pajak (tax holiday) dan tax allowance untuk pembangunan kilang minyak berpotensi tidak menarik perhatian pihak swasta. Pasalnya, ada faktor ketidakpastian dari sisi ketersediaan bahan baku minyak mentah untuk diproses di kilang.

Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Bidang Energi dan Migas Bobby Gafur Umar mengatakan, untuk saat ini masih belum ada pihak swasta yang berminat untuk membangun kilang setelah ada insentif pajak itu. Hanya PT Pertamina (Persero) yang sudah maju untuk pembangunan kilang minyak tersebut.

"Pihak swasta masih enggan membangun kilang lagi karena belum adanya kepastian terkait dengan bahan baku minyak mentah dari hulu migas," ujarnya kepada Bisnis, Selasa (17/4).

Meskipun begitu, Bobby mengapresiasi keputusan pemerintah terkait kebijakan insentif fiskal pada sektor migas, seperti tax holiday dan tax allowance. Hal itu mungkin saja mampu menggairahkan investasi khususnya investasi asing (foreign direct investment/FDI) pada sektor migas.

"Hal itu pun bisa mendukung kondisi saat ini. Kondisi investasi migas masih cenderung stagnan dalam 3 tahun terakhir," ujarnya.

Adapun, insentif tax holiday pada pembangunan kilang itu memang diharapkan bisa membuat kapasitas kilang di Indonesia memenuhi tingkat konsumsi minyak di Indonesia.

Bobby mengatakan, dengan gairah investasi pembangunan kilang diharapkan bisa membuat kebutuhan impor BBM berkurang.

"Namun, kembali lagi, mendorong investasi pembangunan kilang itu tidak hanya dari sisi insentif fiskal. Namun, ketika kilang sudah jadi, harus ada kepastian pasokan bahan baku dari hulunya," ujarnya.

Dengan begitu, investasi dan produksi minyak pada hulu pun harus didorong demi memberikan dampak positif kepada sektor midstream mapun hilirnya.

Sampai Maret 2018, lifting migas mencatatkan penurunan sebesar 2,7% dibandingkan dengan 2017 yang sebesar 1,94 juta barel per hari.

Secara rinci, lifting minyak per kuartal pertama berada dikisaran 750,6 barel per hari. Pencapaian lifting itu sudah sebesar 94% daru target lifting sampai akhir 2018 sebesar 800.000 barel per hari, nilai lifting tiga bulan pertama tahun ini juga mencatatkan penurunan sebesar 6,61% dibandingkan sepanjang 2017.

Lalu, lifting gas bumi sampai akhir Maret 2018 berada pada kisaran 1,13 juta barel ekuivalen per hari. Pencapaian lifting gas bumi itu sebesar 95% dari target yang ditentukan dalam APBN 2018 yang sebesar 1,2 juta barel ekuivalen per hari.

Dari segi investasi, pada hulu migas mulai mencatatkan tren positif setelah naik menjadi US$2,4 miliar dibandingkan dengan kuartal I/2017 yang senilai US$1,9 miliar.

Sementara itu, Pertamina pun mengincar insentif tax holiday dan allowance dengan tingkat periode paling maksimal.

SPV Fuel Marketing Pertamina Gigih Wahyu Hari mengatakan, pihaknya pasti akan mengambil kesempatan insentif tax holiday dan allowance untuk pembangunan kilang tersebut.

"Kami sih berharap mendapatkan insentif yang maksimal dari tax holiday tersebut," ujarnya.

Saat ini, Pertamina memang memiliki enam proyek pengembangan dan pembangunan kilang. Keenam proyek itu antara lain, Kilang Cilacap, Balikpapan, Dumai, Balongan, serta dua kilang baru yakni, Tuban, dan Bontang.

Lalu, insentif tax holiday yang didapatkan adalah untuk nilai investasi pembangunan kilang dari US$50 juta sampai US$5 miliar akan mendapatkan insentif fiskal bebas PPH selama 5 tahun sampai sekitar 20 tahun.

Tag : kilang minyak
Editor : Sepudin Zuhri

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top