Proyek Beutong Temukan Kandungan Tembaga Bermutu Tinggi

Proyek pertambangan emas dan tembaga Beutong di Kabupaten Nagan, Aceh, yang dioperasikan PT Emas Murni Mineral (EMM) menemukan mineralisasi tembaga bermutu tinggi melalui pengeboran pertamanya pada tahun ini.
Lucky Leonard | 17 April 2018 20:49 WIB
Ilustrasi - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA - Proyek pertambangan emas dan tembaga Beutong di Kabupaten Nagan, Aceh, yang dioperasikan PT Emas Murni Mineral (EMM) menemukan mineralisasi tembaga bermutu tinggi melalui pengeboran pertamanya pada tahun ini.

Adapun proyek tersebut saat ini tercatat memiliki sumber daya JORC di Beutong mencapai 2,4 juta ton tembaga, 2,1 juta ounce emas, dan 20,6 juta ounce perak. Selain Emas, tembaga, dan perak, terdapat juga cadangan molibdenum berkualitas tinggi.

CEO Asiamet Resources, pemilik tidak langsung 40% saham EMM, Peter Bird mengatakan pihaknya akan terus mengevaluasi hasil pengeboran untuk mendapatkan data deposit tembaga yang lebih akurat.

Dia menuturkan pihaknya akan terus mempersiapkan diri terkait pertumbuhan pasar tembaga di masa depan yang diperkirakan terus meningkat. Dia berharap bisa mendapatkan hasil yang positif sepanjang tahun ini.

"Kami akan terus mengeksplorasi dan mengembangkan proyek Beutong, termasuk rencana kegiatan metalurgi dan geoteknik serta evaluasi hasil pengeboran di wilayah-wilayah yang sudah diketahui sebelumnya," tuturnya dalam keterangan resmi, Selasa (17/4/2018).

Seperti diketahui, peningkatan status dari eksplorasi ke operasi produksi untuk proyek Beutong sempat tertuda beberapa kali. Alasannya, mulai dari persyaratan yang harus dilengkapi hingga terjadinya beberapa kali perubahan regulasi dari pemerintah.

Kegiatan ekplorasi utama sebenarnya telah selesai pada 15 Juni 2016. Perusahaan pun terus mengajukan masa suspensi tambahan hingga mendapat kejelasan status IUP-nya menjadi operasi produksi pada awal tahun ini.

Sementara itu, proyek pertambangan Asiamet lainnya di Indonesia melalui PT Kalimantan Surya Kencana (KSK) di Kalimantan Tengah masih terhambat Izin Pinjam Pakai Kawasan Hutan (IPPKH) untuk sebagian besar area operasinya.

Presiden Direktur KSK Mansur Geiger mengatakan pihaknya saat ini hanya fokus pada Blok Beruang Kanan Main (BKM) saja. Sementara tiga blok lainnya, yakni Beruang Kanan South (BKS), Beruang Kanan West (BKW), dan BKZ Polymetallic (BKZ) belum bisa digarap.

"Beruan Kanan Main sekarang sedang selesaikan feasibility study (FS). Ada hambatan-hambatan dari kehutanan. Saya pernah nunggu IPPKH untuk yang pertama sampai tiga tahun dan perpanjangannya satu setengah tahun," ujarnya.

Dia mengungkapkan dari luas wilayah KSK yang mencapai 60.000 hektare (ha), hanya 7.000 ha saja yang bisa digarap. Alhasil, kegiatan sebagian besar kegiatan lapangan tidak bisa dilakukan.

Apabila seluruh perizinan diperoleh dengan lancar, Mansur menargetkan KSK sudah bisa mulai berproduksi pada 2020. Proyeksi tersebut dengan asumsi konstruksi sudah bisa dilakukan tahun depan.

Adapun berdasarkan hasil penilaian awal, proyek pertambangan tembaga BKM bakal memberi pendapatan hingga US$1,27 miliar dalam delapan tahun dengan keuntungan mencapai US$388 juta.

Dalam delapan tahun, tembaga katoda yang dijual diproyeksikan sebanyak 391 pon dengan perkiraan harga tembaga rata-rata selama umur tambang senilai US$3,25 per pon.

Dengan asumsi harga tersebut, royalti yang bakal dibayarkan ke pemerintah mencapai US$63,5 juta dan pajak senilai US$136,6 juta. Sementara itu, waktu yang dibutuhkan untuk menutup investasi yang telah dikeluarkan melalui arus kas bersih (payback period) hanya selama 2,4 tahun.

Tag : pertambangan
Editor : Sepudin Zuhri

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top