Pasar Drone Bakal Tembus Angka Rp474 Triliun di 'Langit Digital'

Pasar perangkat nir-awak (drone) pada 2025 diperkirakan mencapai US$33,9 miliar (sekitar Rp474,6 triliun) berkat ekspansi pemanfaatan perangkat tersebut dalam menunjang sektor industri dan transportasi di langit digital.
Herdiyan | 18 April 2018 12:07 WIB
EHang 184 - Youtube

Bisnis.com, SHENZHEN – Pasar perangkat nir-awak (drone) pada 2025 diperkirakan mencapai US$33,9 miliar (sekitar Rp474,6 triliun) berkat ekspansi pemanfaatan perangkat tersebut dalam menunjang sektor industri dan transportasi di 'langit digital'.

“Langit digital akan segera terwujud, yang bakal dipicu dengan pengembangan industri drone yang begitu pesat, serta penerapan teknologi berbasis 5G,” tulis laporan yang dirilis dalam perhelatan Huawei Global Analyst Summit 2018 di Shenzhen, Guangdong, China.

Pada 2016, industri drone bernilai US$5,3 miliar (Rp74,2 triliun), yang mencakup perangkat, piranti lunak, layanan, serta aplikasi. Namun, hal tersebut baru merupakan langkah awal dalam mewujudkan “langit digital” di masa depan.

Saat ini jangkauan menara pemancar sinyal (base transceiver station/BTS) untuk wilayah udara dengan ketinggian rendah (di bawah 1.000 meter) dan menengah (3.000-5.000 meter) masih dibatasi oleh sejumlah aturan, sehingga tingkat pemanfaatannya tergolong rendah.

Huawei Wireless X Labs Digital Sky sedang mengupayakan untuk memperluas cakupan jaringan di wilayah udara berketinggian rendah. Tujuannya adalah untuk menciptakan lingkungan uji coba yang kondusif bagi inovasi untuk penggunaan drone, bahkan memungkinkan sistem pengantaran paket dengan drone atau taksi terbang untuk mengangkut penumpang.

“Kendaraan otonom akan berfungsi sebagai infrastruktur yang mendukung model bisnis taksi terbang itu. Mereka tidak perlu runway dan bisa lepas landas secara vertikal layaknya helikopter. Hal tersebut juga akan mengatasi masalah mobilitas yang dihadapi manula dan penyandang disabilitas,” tulisnya.

Lebih lanjut, pemanfaatan wilayah udara untuk transportasi tersebut akan menyisakan ruang yang lebih hijau di daratan. Jalanan yang tadinya dipadati kendaraan bermotor bisa kembali digunakan untuk lahan hijau atau ruang untuk komunitas.

Namun, penerapan teknologi inovatif tersebut baru bisa terwujud jika didukung dengan integrasi teknologi nirkabel super cepat ke dalam industri drone, perluasan cakupan jaringan hingga wilayah udara ketinggian rendah, peningkatan standar industri, serta perluasan aturan untuk penggunaan wilayah udara secara efisien.

“Skenario tersebut akan memungkinkan drone yang saling terhubung dalam sektor transportasi, pengintaian, penyelamatan bencana, serta berbagai fungsi manajemen perkotaan lainnya karena saat ini drone hanya terhubung dengan remot control,” tulis laporan GIV 2025.

Selain sektor transportasi, diprediksi industri logistik (pengiriman paket) akan merasakan manfaat yang besar dari perluasan pemanfaatan drone karena kurir pengantaran, alokasi pemesanan barang, jumlah barang, dan berbagai elemen lain tak bakal jadi masalah di era +Intelligence.

“Sistem logistik manual akan punah, kompetisi industri logistik akan ditentukan oleh inovasi dan layanan yang berbasis personal,” tulisnya.

Dalam proses riset GIV 2025, Huawei menerapkan metodologi yang menggabungkan data dan analisis tren guna memaparkan tren serta cetak biru masa depan industri TIK. Data yang digunakan dalam GIV 2025 tersebar di lebih dari 170 negara dan laporan tersebut mencakup tiga dimensi yaitu perangkat yang terhubung, perangkat yang mampu mengindra, dan perangkat yang cerdas.

Huawei Global Analyst Summit pertama kali digelar pada 2004 dan berlanjut hingga 15 tahun kemudian. Tahun ini, gelaran HAS 2018 berlangsung pada 17-19 April dengan berbagai sesi paralel yang dihadiri pakar dari berbagai industri di seluruh dunia.

Tag : huawei
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top