Andreas Ananto Kagawa Jadi Bos Baru Nutanix

Pertumbuhan konsumen Nutanix di Indonesia selama setahun terakhir naik 136%.
Duwi Setiya Ariyanti | 26 April 2018 17:27 WIB
Country Manager Nutanix Andreas Ananto Kagawa

Bisnis.com, JAKARTA — Nutanix, perusahaan peranti lunak di bidang komputasi awan atau cloud menunjuk Andreas Ananto Kagawa menjadi Country Manager.

Adapun, setelah 3,5 tahun beroperasi di Indonesia, Nutanix melihat potensi pasar yang bisa digarap khususnya terkait komputasi awan. Oleh karena itu, manajemen membentuk tim penuh yang dinakhodai Andreas Ananto Kagawa yang berpengalaman lebih dari 20 tahun. 

Country Manager Nutanix Andreas Ananto Kagawa mengatakan pertumbuhan konsumen di Indonesia selama setahun terakhir yakni dari 31 Januari 2016 ke periode yang sama tahun 2017 naik 136%. Pihaknya pun menambah jumlah karyawan di Indonesia sebanyak 40% di periode tersebut.

"Customer growth 136% selama setahun terakhir. Kami di sini baru 3,5 tahun," ujarnya dalam jumpa pers di Jakarta, Kamis (26/4/2018).

Respons yang positif ini, katanya, karena perusahaan telah mengetahui pentingnya penggunaan cloud. Meskipun, dia mengakui masih ada perusahaan yang ragu untuk mengadopsi cloud karena alasan keekonomian. 

Saat ini, tutur Andreas, pengguna cloud Nutanix separuhnya berasal dari pemerintah, badan usaha milik negara (BUMN), manufaktur, ritel, dan dagang elektronik. Dia menyebut masih terdapat peluang seperti perkebunan dan pertambangan yang membutuhkan solusi distributed cloud

Industri jenis ini, katanya, akan memeroleh manfaat karena cloud bisa disediakan meskipun di daerah terpencil. Melalui perangkat fisik yang ringkas, tutur Andreas, penyimpanan data tetap bisa berjalan dengan energi dan ruang yang minimal karena bisa digunakan tanpa harus memasang jaringan khusus penyimpanan atau storage area network

Dia menyebut cloud saat ini menawarkan pelayanan yang lebih lincah sehingga mampu mendukung kegiatan industri. Public cloud, katanya, cocok untuk menyimpan data yang bersifat fluktuatif dan di luar prioritas. Sementara private cloud atau on-premise khusus untuk data yang terprediksi dan menjadi prioritas. Terakhir, distributed cloud yang lebih luwes sehingga memungkinkan untuk mendukung kegiatan di lokasi terpencil. 

Keseluruhan pelayanan ini bisa didapatkan tanpa harus menggunakan banyak vendor. Penggunaan banyak vendor, menurutnya, memiliki kelemahan dari sisi kecepatan pengaplikasian yang mungkin berdampak pada efisiensi karena adanya hambatan waktu.  

"Kalau perusahaan menggunakan teknologi yang berbeda enggak portable karena masing-masing punya manajemen model," katanya. 

Tag : cloud computing
Editor : Demis Rizky Gosta

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top