Gelar Raker, SKK Migas Optimalkan Kegiatan Lifting

SKK Migas berupaya mengoptimalkan operasi kegiatan lifting minyak melalui rapat kerja bersama Pertamina Shipping dan para pengusaha perkapalan sejalan dengan target lifting minyak bumi tahun ini sebesar 800.000 bph.
Peni Widarti | 27 April 2018 04:03 WIB
Ilustrasi pengeboran minyak lepas pantai - Bisnis.com/Sepudin Zuhri

Bisnis.com, SURABAYA – Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) berupaya mengoptimalkan operasi kegiatan lifting minyak melalui rapat kerja bersama Pertamina Shipping dan para pengusaha perkapalan sejalan dengan target lifting minyak bumi tahun ini sebesar 800.000 barel per hari (bph).

Kepala Divisi Penunjang Operasi dan Keselamatan SKK Migas Bagus Edvantoro mengatakan dalam rapat koordinasi tersebut SKK Migas mengkoordinasikan kesiapan kapal-kapal migas dan sekaligus mensosialisasikan pengetatan syarat beroperasikan kapal sebagai upaya efisiensi.

"Jadi, ini terkait upaya penurunan biaya recovery di mana agar tidak terjadi keterlambatan dalam melakukan lifting atau mengangkat minyak dari tanki yang sudah dipenuhi minyak bumi. Jadi kami ingin menyesuaikan jadwal kesiapan para stakeholder [pemilik kapal swasta]," jelasnya kepada Bisnis di sela-sela Rapat Kerja Perkapalan dan Transportasi SKK Migas di Surabaya, Jawa Timur, pada Kamis (26/4/2018).

Dia mengutarakan selama ini dalam hal mengangkut hasil minyak bumi terjadi keterlambatan yang secara teknis diakibatkan oleh adanya gangguan kerusakan pada kapal pengangkut.

Untuk itu, lanjutnya, syarat kegiatan lifting migas ini diperketat salah satunya usia kapal harus kurang dari 20 tahun. "Namun, aturan ini masih ada kelonggaran yakni umur kapal dibatasi 20 tahun bisa beroperasi untuk lifting, tetapi harus memenuhi assessment atau punya kemampuan dan kompetensi berdasarkan bukti-bukti."

Anggota Bidang Lepas Pantai Indonesian National Shipowners Association (INSA) Pieters Utomo mengemukakan sebagai para pengusaha kapal INSA mengaku siap menyediakan kapal-kapal yang diperlukan untuk mengangkut hasil minyak bumi sesuai dengan kriteria yang diharapkan.

"Di INSA sendiri anggotanya ada 1.400 an dengan tujuh bidang usaha, salah satunya offshore yang totalnya sekitar 30% atau 500 an anggota dan yang altif ada 72 perusahaan. Mereka siap untuk menyediakan kapal sesuai kebutuhan kegiatan lepas pantai," ujarnya.

SKK Migas mencatat saat ini masih ada pasokan sekitar 10 juta barel. Dengan demikian, harus menunggu jadwal lifting sebesar 4 juta - 5 juta barel dari pasokan yang tersedia. Hingga akhir tahun ditargetkan harus bisa menjaga pasokan berada di kisaran 5 juta barel.

Adapun hingga kuartal I/2018, lifting migas Indonesia sebesar 1,89 juta barel ekuivalen per hari. Angka itu telah mencapai 94% dari total target 2018 yang sebesar 2 juta barel ekuivalen per hari.

Secara terperinci, lifting minyak sebesar 750.600 bph atau sudah mencapai 94% dari total target 800.000 bph, sedangkan lifting gas bumi 1,13 juta barel ekuivalen per hari atau telah mencapai 95% dari target 1,2 juta bph.

Tag : migas, skk migas
Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top