Wakil Menteri ESDM Arcandra Ungkap 3 Kunci Percepatan Pengembangan EBT

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (Wamen ESDM), Arcandra Tahar mengatakan terdapat tiga pilar utama yang diperlukan dalam mengembangkan strategi percepatan pengembangan energi baru, terbarukan dan konservasi energi (EBTKE).
Denis Riantiza Meilanova | 15 Mei 2018 22:30 WIB
Archandra Tahar. - Antara/Puspa Perwitasari

Bisnis.com, JAKARTA--Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (Wamen ESDM), Arcandra Tahar mengatakan terdapat tiga pilar utama yang diperlukan dalam mengembangkan strategi percepatan pengembangan energi baru, terbarukan dan konservasi energi (EBTKE).

 "Percepatan itu memerlukan strategi, ada tiga pilar penting untuk mengembangkan strategi percepatan pengembangan EBTKE, sistem dan business yang transparan, pengembangan human capital yang mumpuni, serta pengembangan teknologi yang menunjang," ujar Archandra dalam Seminar Nasional "Akselerasi Pembangunan EBTKE: Masalah dan Solusi" dikutip dari laman resmi Direktorat Jenderal EBTKE Kementerian ESDM, Selasa, (15/5/2018).

Archandra mengungkapkan selama ini yang menjadi kendala  dalam pengembangan dan penciptaan inovasi teknologi adalah adanya ketakutan penciptaan inovasi karena tidak adanya payung hukum.

 "Ada ketakutan penciptaan inovasi, harus ada payung hukum dulu, sementara kita membutuhkan inovasi untuk melaksanakan akselerasi ini. Oleh karenanya kami butuh dukungan semua pihak, termasuk universitas," kata Archandra.

Senada dengan Archandra, Anggota IV BPK RI, Rizal Djalil menyampaikan beberapa permasalahan yang dihadapi dalam pengelolaan EBTKE, salah satunya adalah teknologi.

"Ada beberapa permasalahan umum yang dihadapi dalam pengelolaan EBTKE yang berhasil diidentifikasi teman-teman Auditor BPK, antara lain ketergantungan pada energi fosil, EBT belum berkembang, sosial masyarakat, tata kelola pemerintahan, local content, dan dukungan pendanaan,” ujar Rizal.

Pada kesempatan yang sama, Rektor Institut Teknologi Bandung (ITB) Kadarsah Suryadi mengatakan ITB terus berkomitmen mendukung program akselerasi pengembangan EBTKE yang dilakukan pemerintah.

"Saat ini ITB aktif melakukan penelitian untuk mengembangkan teknologi energi, termasuk EBT, antara lain biofuel, bioethanol, biogas, limbah, biomassa, organic rankine cycle untuk energi temperatur rendah, turbin arus, dll," katanya.

Peran perguruan tinggi dalam proses akselerasi pengembangan EBTKE adalah sektor pendidikan (penyediaan sumber daya manusia), pengembangan teknologi melalui penelitian dan pengembangan teknologi yang dilaksanakan bersama industri, continuing education untuk peningkatan kapasitas SDM pemerintah dan industri, serta pengabdian masyarakat (konsultansi ke pemerintah).

Untuk penguatan peran tersebut, diperlukan beberapa upaya antara lain capacity building untuk tenaga pendidikan dan peneliti, peningkatan dana penelitian, pelibatan perguruan tinggi dalam proses alih teknologi, peningkatan mutu pendidikan dan penelitian, pengembangan link-and-match antara pendidikan perguruan tinggi dengan kebutuhan industri, serta pengembangan link-and-match antara penelitian perguruan tinggi dengan kebutuhan industri. Meski demikian, Kadarsah mengingatkan kalau faktor penting pengembangan energi tidak hanya ilmu pengetahuan dan teknologi, namun juga faktor sosial ekonomi dan manajemen.

Pada akhir seminar, Rizal Djalil selaku Anggota IV BPK RI menegaskan kembali pentingnya peran dan keberadaan Direktorat Jenderal EBTKE. "Kalau pada seminar sebelumnya saya bilang Ditjen EBTKE dibubarkan saja, ya itu untuk menunjukkan agar semua pihak bergerak. Adanya diskusi pada hari ini tentunya kembali memberikan pencerahan untuk kita semua pentingnya EBTKE dan tentunya pentingnya dukungan semua pihak termasuk universitas, pemda, asosiasi dan lembaga terkait," katanya.

Tag : energi terbarukan, Archandra Tahar
Editor : Fatkhul Maskur

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top