KINERJA PERDAGANGAN: Defisit Perdagangan Bikin Cemas

Defisit perdagangan sepanjang 4 bulan pertama tahun ini mulai mencemaskan, setelah mencatat surplus yang cukup besar sepanjang periode yang sama dalam 3 tahun terakhir.
Rayful Mudassir/ David Eka Issetyabudi | 16 Mei 2018 12:40 WIB

Bisnis.com, JAKARTA — Defisit perdagangan sepanjang 4 bulan pertama tahun ini mulai mencemaskan, setelah mencatat surplus yang cukup besar sepanjang periode yang sama dalam 3 tahun terakhir.

Ini ada headline koran Bisnis Indonesia edisi Selasa 16 Mei 2018. Berikut laporan selengkapnya.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Januari-Februari tahun ini defisit US$1,31 miliar. (lihat grafis) Pada periode yang sama tahun lalu, perdagangan justru mencatat surplus sebesar US$5,33 miliar.

Ada pun, defisit neraca perdagangan pada April tahun ini mencapai US$1,63 miliar, setelah bulan sebelumnya mencatat surplus. Ini merupakan defisit bulanan terbesar sejak 2014.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira Adhinegara menilai kondisi defisit neraca perdagangan saat ini menjadi lampu kuning bagi pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Dengan melebarnya defisit neraca perdagangan, hal itu mencerminkan semakin besarnya permintaan valuta asing untuk kebutuhan impor. “Ini lampu kuning buat nilai tukar rupiah,” katanya kepada Bisnis, Selasa (15/5).

Saat ini, paparnya, kondisi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sangat mengkhawatirkan. Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan Selasa (15/5) ditutup melemah 59 poin atau 0,42% ke level Rp14.032 per dolar.

Penguatan dolar tersebut disebabkan oleh ekspektasi investor global terkait dengan kenaikan suku bunga The Fed. Bhima menyatakan investasi langsung asing dan pariwisata dapat menjadi solusi cepat membantu meredam tekanan impor yang berpotensi memperlebar defisit transaksi berjalan Indonesia lebih dari 2% pada tahun ini.

Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Mohammad Faisal juga menilai pemerintah perlu berhati-hati dengan defisit neraca perdagangan yang berpotensi berlanjut.

Defisit neraca perdagangan itu bisa memperdalam defisit neraca transaksi berjalan (current account defisit/CAD), yang menjadi penyebab utama dalam pelemahan nilai tukar rupiah.

“Jelas defisit perdagangan akan mendorong CAD semakin lebar. Defisit CAD merupakan faktor fundamental yang membuat lemahnya rupiah,” katanya.

Namun, Faisal menilai peningkatan impor menjelang Ramadan adalah wajar. Data BPS menunjukkan laju ekspor tumbuh lebih lambat dibandingkan dengan impor, yang tercatat naik 34%, sedangkan ekspor hanya naik 9%.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto mengatakan kinerja ekspor April dipengaruhi oleh penurunan pengapalan ke beberapa negara mitra dagang utama, seperti China, AS, dan India. Salah satunya, ekspor ke China turun US$537 juta dibandingkan dengan bulan sebelumnya.

Di sisi lain, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menilai defisit yang terjadi disebabkan oleh pembentukan modal akibat banyaknya proyek infrastruktur dan kenaikan investasi langsung di dalam negeri. Darmin memperkirakan defisit itu akan terus berlanjut. Namun, hal itu menjadi indikasi yang positif sebab gairah investasi swasta mulai bangkit.

“Itu menunjukkan hasil dari kenaikan investasi dan pembangunan infrastruktur karena investasi berjalan,” katanya.

Pemerintah, sambungnya, akan terus mempercepat realisasi investasi dan pembangunan infrastruktur dan mendorong ekspor guna mengimbangi kenaikan impor.

Darmin juga optimistis ekspor akan menyusul naik karena pertumbuhan ekonomi kuartal I/2018 mencapai 5,06%.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menegaskan tekanan terhadap neraca perdagangan itu akan menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan dengan cepat.

Namun, Menkeu menilai pertumbuhan secara tahunan di atas 9% menunjukkan ekspor masih sangat sehat. Menurutnya, tingkat dari pertumbuhan ekspor tentu akan jauh lebih bagus apabila ada diversifikasi dari komoditas ataupun daerah tujuan.

“Pemerintah akan terus meluncurkan dan terus meningkatkan apa yang disebut berbagai kebijakan untuk mengembangkan investasi dan ekspor termasuk fasilitas fiskal yang akan terus kita perbaiki,” ujar Menkeu.

Menteri  Perdagangan Enggartiasto Lukita menambahkan laju impor pada April ditopang oleh kenaikan impor bahan baku dan penolong. Kenaikan impor bahan baku dan penolong justru mengisyaratkan geliat manufaktur di dalam negeri. 

Tag : defisit neraca perdagangan
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top